Pages

Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Wednesday, October 23, 2013

Cerita Alam

Langit sangat cerah, awan berarak membentuk suatu pola ; pola tak berpola. Pagi yang cerah tiap harinya, dengan harum bunga dan angin yang lembut. Para cemara menari sesuai bisikan nada aliran sungai dimana ikan-ikan dan karanglah pemusiknya. Burung gereja yang sangat ramah selalu menyapa, bukan berkicau atau bernyanyi. Hanya menyapa. Seolah merasakan indahnya damai surga, sekali kemari maka akan sulit kembali. Serasa tak rela meninggalkan nuansa penuh cinta dari alam.

Terlihat dari kejauhan seorang pria berdiri, memandang langit dengan seksama, entah penuh makna atau duka. Sesekali menunduk, berkedip pada rumput ; berusaha tersenyum. Ironi. Dalam hembusan angin yang ceria terbawa aroma lara. Entah berasal dari pria itu, atau pada pada pandangannya. Atau pada keduanya. Diam. Alam pun terus mengamatinya. Dalam diam.

Dunia adalah menyakitkan menurutnya. Penuh ilusi dan tipu daya, kemenangan hanya pada yang berkuasa atas harta. Atas harta, kuasa sampai wanita. Yang berharta akan berkuasa, yang berkuasa akan bermain wanita. Klasik. Untuk seorang pria naif seperti dia, yang berharap pada kesejatian cinta, dunia begitu memilukan. Semua yang ia cintai, terutama bidadari yang ia harapkan untuk bersamanya, meninggalkannya. Ia tak punya harta, pun kuasa, maka sukar dalam mendapat wanita. Yang ia miliki hanya keyakinan akan masa depan cerah.

"Katakan padaku! Selain harta dan kuasa, apa yang tidak kumiliki?! Hatiku kuat selayak baja, jiwaku dipenuhi semangat emas kejujuran, murninya kilauan berlian tak semurni cintaku pada gadis yang kuharapkan! Mengapa dunia begitu jahat??? Mengapa hanya yang berharta yang bisa mendapatkan segalanya???? Tak ada lagikah yang berhati lurus di dunia ini?? MENGAPAAAA???!!!"

Para burung berhamburan, angin bergejolak, para cemara membuang daun-daunnya. Mereka yang hanya mengamati akhirnya berontak. Suara sungai pun makin keras menghantam. Suara parau pria itu menjadi alasan mereka berontak. Ada yang salah. Ada yang salah pada pandangan pria itu. Atau pada pola pikirnya. Atau keduanya.

Setelah sesaat, alam pun kembali diam. Kembali mengamati. Apa gerangan yang akan dilakukan pria ini? Sungai mulai gelisah. Jangan-jangan pria ini ingin meceburkan dirinya? Ah, tidak mungkin. Sungai terlalu indah dan juga tidak dalam. Ikan menenangkan sang sungai. Atau pria ini ingin menggantungkan dirinya? Para cemara mulai gelisah. Itu tidak mungkin, para cemara terlalu tinggi dan terlalu indah untuk tempat bergantung. Burung-burung menenangkan para cemara. Lalu apa yang kira-kira akan pria ini lakukan?
Mungkin ada yang bisa menolongnya? Kita hanya bisa mengamati. Begitu yang alam pikirkan.

"Kak..."

Terhenyak dari ratapannya, pria ini merasakan ada yang menarik-narik kemeja yang ia kenakan. Dilihatnya seorang anak kecil berhidung mungil dengan tangan yang mungil pula.

"A...ada apa?"

"Kenapa kakak berisik?"

"Ah... maaf, aku kira hanya aku yang ada disini."

"Kakak sedih? Kenapa?"

"Orang yang kucintai meninggalkan aku demi orang yang tidak lebih baik daripada aku."

"Oh... jadi kakak sedih karena ditinggalkan... Kalau kutemani bagaimana? Aku takkan meninggalkan kakak."

Pria ini tertegun mendengar kalimat sederhana yang dilontarkan oleh seorang anak kecil yang ada disampingnya.
Tanpa ragu sang anak duduk beralaskan rumput yang lembut, dengan sekali tarikan saja, pria ini juga terduduk disamping sang anak.

Mereka saling berbicara, bercanda dan tersenyum. Dan alam masih mengamati.

"Kau begitu kecil, berapa umurmu?"

"Bulan besok aku masuk sekolah menengah pertama."

"Dua belas? Atau tiga belas?"

"Sebelas. Aku memang paling muda dikelasku."
Kepalanya sesekali digoyangkan ketika bercerita, membuat rambut lurusnya juga bergoyang. Angin sedikit berperan dalam hal ini.

"Oh, pantas. Memang masih kecil." Gumam tawa menggema dari bibirnya.

"Kalau kakak? Dua puluh lima?" Mata coklatnya berkilat penuh selidik.

"Hmpft... Apa aku terlihat setua itu?"
Tawa akhirnya meluncur melalui suaranya. Untuk beberapa saat alam sepertinya ingin tertawa juga. Tapi mereka menahannya.
"Enam belas. Aku baru enam belas tahun."

"Oh.... Baru enam belas... lalu kenapa sudah berpikiran seperti sudah berumur dewasa? Kakak kan belum dewasa?"

"Apa maksudnya?"

"Suara kakak tadi kencang. Kata ibu, hal-hal seperti harta dan yang lainnya hanya perlu dipikirkan oleh orang dewasa. Tapi ada apa sebenarnya?"

"Hanya pelampisan. Hanya ingin berteriak. Hanya itu saja," ucapnya sambil tersenyum simpul.

"Kakak kelihatannya pintar, wajah kakak juga lumayan. Tapi lebih baik kakak memikirkan belajar dulu daripada memikirkan hal yang tidak-tidak."

"Hal yang tidak-tidak bagaimana?"

"Itu juga yang dikatakan ibu padaku, sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti. Harta dan teman-temannya mungkin, mungkin itu adalah hal yang tidak-tidak?"

Sesaat mereka terdiam. Berfikir, tenggelam dalam benak masing-masing. Si pria mungkin merenung ada benarnya sang anak dalam berkata. Sang anak mungkin kembali berusaha memahami apa yang pernah ibunya katakan. Ibunya pernah berkata seperti itu ketika ia bercerita tentang temannya yang memamerkan sebuah cincin emas bermata berlian padanya. Ia benci pada temannya yang suka pamer.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

Kini pikiran si pria mulai terbuka. Ia sadar bahwa ia sebaiknya bangga untuk hal yang ia miliki. Prestasi yang cemerlang, termasuk yang ia banggakan. Ia yakin bahwa ia mempunyai masa depan yang cerah. Tak perlu ia memikirkan bahkan tergila-gila pada seorang gadis untuk saat ini. Kini ia tahu, kelak suatu saat dimana dia sudah berada di posisi tepat dalam hidupnya, dengan mengandalkan kejujuran, prestasi dan terutama Tuhan, ia pasti akan menemukan seorang gadis yang tepat pula untuknya. Untuk saat ini, demi seorang gadis yang tepat, tentunya dia harus menjadi seorang pria yang tepat.

"Dik, siapa namamu?"

"Sherly."

"Sherly, pasti ibumu sangatlah baik. Beliau mengajarkan sesuatu yang baik."

"Ah.. iya, ibuku sangat baik. Masakannya juga enak, terutama nasi gorengnya!"
Timpal sang anak dengan penuh semangat.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Sudah kuputuskan. Aku akan mengejar masa depanku dengan belajar keras saat ini."
Ia bergumam. Masih sakit. Atas kekalahannya. Setelah memendam cinta bertepuk sebelah tangan beberapa lama, ternyata gadis yang ia cintai jatuh ke pelukan seorang remaja pria yang memiliki orangtua yang kaya raya. Sedangkan ia hanya seorang remaja pria penerima beasiswa yang berasal dari keluarga sederhana.

"Kak....? Kakak melamun?"

"Eh... maaf, hanya sedikit berfikir. Boleh kapan-kapan aku mencicipi nasi goreng buatan ibumu? Kedengarannya sangat sangat enak..." ^_^

"Tentu! Sangat sangat sangaaatt enak!" Kedua jempol tangannya ia acungkan dengan mantap.

Alam masih diam, sedikit bergumam. Angin bergumam dengan lembut, awan kembali ceria melintasi bukit, burung gereja pun menyapa hati yang mulai bangkit. Nuansa damai kembali menyeruak.

"Sudah beranjak sore. Aku ingin pulang. Kau sebaiknya pulang juga Sher."
Sedikit meregangkan badan, dan si pria mulai melangkah maju.

"Ah, iya."

Dengan langkah kecilnya sang anak berlari berusaha mengikuti langkah si pria. Dan kembali berhasil menarik kemeja si pria. Hampir. Hampir saja si pria tak kuasa menahan bebannya sendiri. Untung saja gerak reflek melarangnya untuk jatuh.

"Ada apa? Sherly?"

"Besok kakak kesini lagi? Kubawakan nasi goreng buatan ibuku. Mau?"

Si pria terdiam sesaat. Lalu tersenyum hangat.
"Tentu saja.."

Tangannya mengusap kepala sang anak. Membuat rambut pendek sang anak sedikit tak beraturan.
Sampai-sampai sang awan pun tertawa melihat rambut sang anak. Tapi sang anak terlihat tak peduli.

"Asik... "
Tapi belum ia lepaskan tangannya dari kemeja si pria.

"Eh iya. nama kakak siapa?"

"Namaku? Namaku...........





                                                                                                            ==End==

Wednesday, March 6, 2013

Prediksi Cinta 12 Shio --- :D






Sekedar info, waktu saat saya menulis artikel ini adalah pukul 03.00 WIB! Hoho...

Kemarin lusa iseng tanya Pak Bos perihal buku fengshui yang beliau wajb beli setiap tahun baru. Dan ternyata malah dibawain kemarin, dikasih pinjam.. xixi

Cinta... Oh lagi-lagi cinta...
Lagi-lagi soal cintaaaa....

Hal utama yang kulirik adalah peruntungan soal cinta... XD
Kali ini mau share tentang peruntungan cinta keduabelas shio dalam penanggalan Cina.
Sumber tulisan ini adalah buku berjudul Prediksi Peruntungan Anda - Tahun 2013 Ular Air karya Suhu Wong.

Percaya nggak percaya siiihhh... Kalau buatku sendiri, aku melihat prediksi-prediksi semacam ini adalah doping agar selalu tetap semangat. Kalau prediksinya buruk, berarti kita harus tetap terus berusaha pada karya kita dan menajamkan kewaspadaan diri serta menambah perhatian terhadap lingkungan sekitar. Intinya waspada. Mau bener kejadian jelek ya kita udah persiapan mental, mau nggak kejadian ya berarti harus ekstra bersyukur pada Tuhan. Kalau membaca prediksi yang buruk lalu nglokro (nyerah, tanpa semangat), itu namanya pesimis. Orang pesimis adalah orang anti-sukses. Sedangkan kalau prediksinya baik, bukan berarti boleh berleha-leha. Karena prediksi baik berarti kita harus gencar melakukan inovasi-rencana-mengambil peluang yang ada, untuk memajukan usaha yang kita jalani (usaha disini bukan berarti bisnis saja, tapi tentang pekerjaan dan atau hal yang kita tekuni). Tapi jangan kemudian grusa-grusu-ceroboh dalam mengambil keputusan perihal kesempatan yang menggiurkan. Tetap harus disertai pertimbangan yang matang dan tenang.

Yaak! Sudah gitu aja panjang kali lebarnya, ini kuambil peruntungan cintanya aja ya...
hoho..


1.  Shio Tikus
Perkenalan yang sudah lama harus segera diikat perkawinan. Bagi yang jomblo, peluang mendapatkan calon pendamping hidup semakin besar. Jadi seriuslah!

2.  Shio Kerbau
Jika sudah jodoh, pasti akan terjadi perkwinan di tahun ini. Sekaranng tinggal memperkuat hubungan dan mempersiapkan agenda utama : membentuk keluarga.

3.  Shio Macan
Masih banyak yang harus dibicarakan. Jangan patah arang di tengah jalan.Bila sudah mantap, tetapkan tanggal mengikat janji pernikahan.

4.  Shio Kelinci
Bila ada jodoh, akan ada perhelatan besar tahun ini. Jalani semuanya dengan apa adanya. Jangan bertindak konyol dan tergesa-gesa.

5.  Shio Naga
Semakin sering bertemu lebih baik daripada mengobral janji.Pemahaman terhadap karakter pribadi jauh lebih baik daripada kompromitas.

6.  Shio Ular
Bagi yang belum menemukan jodoh, usaha semakin ditingkatkan karena sudah ada yang menanti anda. Kepribadian buruk harus mulai dihilangkan. Awal hidup baru bisa ditapaki.

7.  Shio Kuda
Mengembangkan rasa percaya diri sangat penting anda lakukan. Anda gagal karena anda merasa tidak pantas bagi pasangan. Pupuk asmara anda secara perlahan tetapi serius.

8.  Shio Kambing
Ada tiik kemajuan sekalpun tidak terlalu besar tapi sudah memperlihatkan tanda-tanda kalau pasangan anda adalah calon pendamping hidup yang sempurna.

9.  Shio Monyet
Jika sudah saling sepakat, boleh diikat pernikahan. Bagi yang bujang, pilihan banyak tetapi tetapkan standar yang anda inginkan. Memilih pasangan adalah soal seumur hidup.

10. Shio Ayam
Jangan terlena kelebihan tetapi harus mengakui kelemahan. Tempat romantis bisa menghangatkan lagi hubungan. Saling memahami menjadi mantra baru dalam asmara anda.

11. Shio Anjing
Problem lama dipecahkan terlebih dahulu. Selalu terbuka mendengarkan keluhan dan nasehat lebih objektif. Lebih banyak berinstropeksi untuk mencapai pemahaman.

12. Shio Babi
Problem-problem kecil selalu muncul dan tidak boleh anda sepelekan. Akumulasi mereka bisa menjadi batu sandungan perjalanan asmara anda.



Minim banget yak infonya... ada prediksi untuk yang masih jomblo, ada prediksi untuk yang sudah berpacaran. Nggak ada yang menampilkan dua-duanya, hanya salah satu. Itulah kenapa kusebut minim (emang minim ya).

Dan tiba di penghujung tulisan...
Percaya nggak percaya, semoga sekelumit info ini bisa bermanfaat.
XD

Mau tidur dulu...dah jam setengah 4 subuh...

Zzzzzzzzzzzz.....

Sunday, March 3, 2013

Potongan Senja (bagian 1)




"Kamu suka melihat matahari terbenam seperti ini ya?"

Pertanyaannya mendesakku keluar dari lamunan. Kutolehkan sedikit kepalaku lalu kupalingkan kembali pada matahari. Takut. Ada rasa takut ketika melihatnya memandang ke arahku.

"Iya. Aku suka.."

Langit kala itu seperti terbakar, dengan bola api raksasa yang perlahan terkubur di hamparan air yang juga menjadi merah. Cahaya oranye terang seperti menyeretku masuk ke suatu tempat, suatu tempat di sudut hatiku. Nyaman sekaligus mendebarkan.

"Hmm.. Konon katanya orang yang suka dengan matahari terbenam cenderung lebih sering tenggelam dalam masa lalunya."

"Eh? Yang benar?"

Saat aku menoleh, mata kami bertabrakan. Seketika aku menatap matahari kembali. Sesaat tadi aku melihat senyum kecilnya kearahku. Ah.. aku ingin tengelam saja rasanya.

"Haha.. Kamu ini... 'kan kamu yang bisa cocokin sama diri kamu sendiri benar atau nggaknya. Aku 'kan tadi bilangnya juga cuma 'konon'."

Suara tawanya menggema dalam telingaku. Bersyukur ada matahari yang menyerangku dengan sinar oranyenya. Aku jadi tak perlu cemas pada perubahan warna kulit wajahku. Dia terus saja memberiku pertanyaan demi pertanyaan yang kemudian berubah menjadi topik obrolan. Mau tak mau aku jadi sering menatap wajahnya ketika harus menjawab pertanyaan darinya. Ya walau dengan begitu lebih sering juga aku melarikan tatapan mataku pada matahari. Ketika aku diam, ia akan menjadi lebih beirisik. Sedikit mengganggu, tapi entah kenapa aku ingin dia tetap menggangguku.

"Jadi memang benar kamu lebih sering mengingat kenangan masa lalu ya.. "

"Seperti kubilang tadi, hanya kadang-kadang, tapi lumayan sering juga."

"Haaa~ ? Kadang-kadang tapi sering? Apa sering tapi kadang-kadang? Hahaha..."

Ah... aku jadi teringat nilai pelajaran Bahasa Indonesiaku yang sempat anjlok saat SMA. Kenapa aku jadi sebegitu canggung seperti ini?
Hanya karena tawa lepasnya aku jadi tak fokus memalingkan wajahku pada matahari. Bahkan sandalku pun aku tatap lekat-lekat tanpa sengaja.

"Ah.. haha.. maaf, malah jadi seperti mentertawakanmu. ha...hha.."

Apa? 'Seperti' katamu?

"Kamu jarang tertawa ya sepertinya?"

Perlu dijawabkah pertanyaan seperti itu? Kurasa tidak. Jadi aku hanya diam tertunduk. Hanya menatap pasir yang berserakan di kuku kakiku.

"Sering melamunkan masa lalu, jarang tertawa, jarang berbicara... Apa kamu bahagia?"

Bahagia? Apa itu bahagia? Kulihat matanya, kucari maksud dari 'bahagia' yang ia katakan barusan.
Bahagia?

"Apa itu bahagia?"

Hening.
Sedetik setelah kalimatku yang ada setelahnya adalah suasana bisu. Mimik wajahnya seperti heran dan kaget. Aku juga heran. Kemana tawanya yang tadi? Bukankah seharusnya dia tertawa?  Aku tak sanggup menatap matanya dalam waktu yang lebih lama, lagipula di matanya tak kutemukan suatu apapun. Hanya terpana.

"Ah... maaf."

Eh? Kenapa dia meminta maaf? Ekspresi menyesal yang ia tunjukkan malah menbuatku sesak. Tertawalah. Kumohon tertawalah seperti tadi.
Apa aku salah kalau aku tak mengerti tentang arti bahagia?

Kumohon...

"Maaf.... Aku juga... maaf."

Kembali pada hening. Kami sama-sama tertunduk. Entah apa yang ia pikirkan, Tapi aku memikirkan dia yang tiba-tiba menjadi seperti ini. Beberapa menit yang lalu ia tertawa.
Tertawa!
Hanya karena 'bahagia' ia menjadi seperti ini. Mungkin aku harus menyalahkan 'bahagia'.

Perlahan tapi pasti sinar oranye itu lenyap, berikut dengan matahari yang membawanya. Hamparan pantai jadi terasa riuh, ramai. Ah... tapi sepertinya dari sebelum aku kemari memang telah ramai. Kenapa aku sempat merasa di pantai ini hanya ada aku dan dia? Perlukah kusalahkan 'bahagia' lagi karena 'bahagia' sudah menyadarkanku bahwa di tempat ini bukan hanya ada aku dan dia?

"Sudah kuputuskan!"

"Eh?!"
Apa? memutuskan apa? Kenapa tiba-tiba? Hampir lepas jantungku sepertinya ketika dia mengeluarkan nada kerasnya berikut kepalan di kedua tangannya.

"Sudah kuputuskan. Aku akan menunjukkan padamu apa artinya kebahagiaan itu!"

Dengan mata jernihnya ia menatapku lurus. Senyum kekanakannya membuatku ingin meloncat. Aku benar-benar ingin lari ke lautan saat ia mendekatkan dirinya padaku. Aku..Aku bingung harus melarikan pandanganku kemana? Ah! Iya! Sandalku!

"Jadilah sahabatku, aku akan tunjukkan bahagia padamu!!"



***


"Karin!! Sudah malam nih! Cepat kumpul! Nanti kamu ketinggalan makan malam!"

"Hmm... ya. Aku kesana."

Bola api raksasa sudah menenggelamkan dirinya ke lautan. Kurasa sudah saatnya aku kembali pada masa sekarang. Sepenggal kenangan tentang senja membuatku tenggelam pada masa lalu.
Yah... seperti katanya waktu itu. Memang benar kalau aku menyukai masa lalu.



~~~bersambung~~~

Friday, February 15, 2013

Salahkah Jika Mencinta?

Apakah salah jika menginginkan hidup yang lebih baik?
Apakah salah jika menginginkan kebahagiaan?
Apakah salah jika menginginkan kesenangan?

"Kau!! Kau sudah membuat malu seluruh nenek - kakek moyang dan seluruh darah keturunanku!!"

Apa? Kenapa bisa? Apa aku salah?

"Kau pikir aku sudi memakan nasi dari uangmu???? Melihatnya pun aku tak sudi!! Jika saja kau memberitahuku darimana uang-uang itu berasal... Aku- a - aku... Aku akan... Aaaaarrggghh!!!!"

Apa salahku? Kenapa dia semarah itu? Semurka itu? Sekacau itu?
Teriakannya menggema keseluruh sudut rumah, merambati udara, menekan kepalaku kuat. Sakit. Sakit kurasa.
Kupegang kepalaku kuat-kuat, kutekan daun telingaku, menghindar dari suara seraknya yang kuat tak beraturan.
Tahu-tahu lututku sudah ada di depan hidungku.
Gemetar...

"Aaaaaaarrggghhhh!!!! Ampuni dia!! Ampuni diaaa Tuhaaannn!!! Ampuni hambamu iniii... ampuni kamiiii ... Aaaaarrrggghhh!!!"

Lari.
Tidak.
Lari.
Tidak.
Haruskah aku lari? Lari kemana?

Kenapa? Kenapa orang renta ini terus menerus berteriak? Bahkan dia menunjuk-nunjuk kepalaku.
Kepalaku yang layu.
Apa aku salah? Apa aku sesalah itu sampai-sampai dia ingin membunuhku dengan suara sumbangnya dan dengan matanya yang menusukku itu?
Dia ingin membunuh tanpa menyentuhku dari singgasana kursi roda tua yang ia duduki?
Jujur, aku lebih memilih dia menusukku dengan pisau dapur, langsung ke jantungku!

"PERGIIII!!!! PERGI DARI RUMAHKUUU!!!! KAU ANAK DURHAKA!!"

Apa?
Pergi? Pergi katanya?
Kubuka tanganku, kujauhkan dari wajahku yang berhias air mata.
Pelan kutegakkan kepalaku, menatap matanya yang garang...

"Apa? Ibu me- mengusirku??"

"Berani-beraninya kau menyebutku IBU???? Aku bukan Ibumu!!! Kau bukan anakku lagi!!!"

Seakan tersambar petir ratusan kali, tubuhku serasa lemas tak bertenaga, lutut yang menjadi penopang ragaku kali ini pun goyah. Kaki yang sudah terkulai pun makin terasa tak bertulang.
Aku tak percaya dia mengatakan itu.
Aku tak mau percaya!!!

"Apa? Ibu.. Kau .. Kau tak mengakuiku? Kau.. membuang..membuangku?"

Perlahan tapi pasti, segala takut dan sedihku berubah menjadi amarah. Aku dapat merasakan detik-detik air di batang nadiku naik menuju ujung kepala.

Meledak.

"Huh. Kau pikir kau siapa? Kau cuma nenek-nenek yang manja, buang air pun harus dengan orang lain. Kau pikir siapa selama ini yang memandikanmu? Mencebokimu? Memberimu makan dan mencuci semua pakaian kotor bekas kotoranmu itu????"

Kurasakan kepuasan. Melihat wajahnya yang syok membuatku mampu mengangkat lututku, kutegakkan kakiku dan berdiri dihadapannya dengan lantang.

"Berkat siapa sisi rumah ini menjadi dinding? Berkat siapa lantai ini menjadi keramik?? Aku!! AKU BU!!"

"Seandainya bukan karena aku, kau masih harus tinggal di gubuk reyot peninggalan bapak! Suamimu yang sudah mati itu!!"

"Dan siapa yang selama ini mengantar kau berobat ke dokter? Siapa yang selalu rela meluangkan waktunya yang padat hanya untuk mendengar ocehan tentang sakit pinggang dan hampanya rasa lututmu itu??"

"SIAPA?? SIAPAA??? JAWAAAAAAAAABBB!!!!"

Hah... rasanya seperti tercekik... Lega sekaligus sakit.
Melihat mulutnya yang ternganga sembari memegang dadanya, nafasnya tersengal-senga, aku menghentikan bicaraku. Wajahnya berkerut, memperkaya kerut yang sudah permanen di wajahnya. Beberapa detik kemudian tangisnya meledak, seluruh wajah ia tenggelamkan ke kedua tangannya yang sudah rapuh itu.

Ia menjadi seperti aku di beberapa menit yang lalu.
Aku puas.
Aku puas dan sakit.

Salahkah aku? Salahkah aku jika ingin hidup bahagia?
Salahkah aku jika aku mencintai seseorang?
Salahkah aku jika aku menerima semua pemberian dari orang yang kucintai?

"Ibu... ibu hanya ingin kau sadar nak... I- ibu hanya ingin kau sadar.. Semuanya ini tidak benar... Salah!"

Memang ... aku tahu orang yang kucintai sudah beristri.
Tapi aku mencintainya! Kami saling mencinta!
Apa yang salah dari orang yang saling mencintai???

"Aku mencintainya bu.. Aku mencintainya. Semua.. Semua yang kuterima juga merupakan rasa cintanya padaku bu! Kami saling mencintai!!"

"Ibu tak sanggup, apa yang akan terjadi nanti.. Ketika berita tentangmu menyebar... Ibu tak sanggup..."

Kali ini pandangan matanya kosong dengan arus airmata tak berkurang. Lengannya ia biarkan terkulai begitu saja. Melihatnya yang seperti itu membuatku sakit!!

"Ibu tadi menyuruhku pergi? Baik aku akan pergi. Aku harap ibu dapat menjaga diri baik-baik."

Kubaikkan badanku dan berjalan menuju pintu. Gontai. Tenggorokanku seperti dicekik. Sakit.

"TUNGGUUU!!! Mau kemana kamu??? Jangan pergi sebelum kau menyadari apa yang menjadi salahmu! NAKKK!!!"

"Aku akan tinggal bersama Mas Hadi. Dia sudah membelikanku rumah. Aku akan tinggal dirumah itu bersamanya."

Kuberbicara membelakanginya, aku tak ingin melihat wajahnya yang membuatku sakit... Tapi tak apa, nanti akan kutelepon yayasan panti jompo untuk menjemputnya. Ya. Pasti. Tak apa. Tak apa. Tak apa, tapi... Kenapa aku menangis?


"JANGAN PERGIII!!! JANGAAAANNNN!!! JANGAN PERGIII!!! RIANTOOOO!!! JANGAN PERGI RIANTOOO!! KAU SALAAAAHHHHH... !!!"





~~~~~~~~~~~~~~~~Untuk khayalan liarku, terimakasih~~~~~~~~~~~~~~~

Seandainya...

Seandainya cinta itu bunga,
pastinya dia berwarna pelangi...
Mengagumkan,
penuh warna....

Seandainya cinta itu udara,
ia pasti harum...
Ringan,
dan hangat...

Seandainya cinta itu kapas,
ia pasti lembut...
Halus,
dan nyaman...

Seandainya cinta itu merpati,
ia akan setia...
Puth,
dan suci...

Seandainya cinta itu mata,
ia pasti menawan..
Indah,
dan menjaga....

Seandainya cinta itu jaket,
ia pasti tebal...
Hangat,
dan melindungi...

Seandainnya cinta itu rumah,
Ia pasti kokoh...
Tangguh,
dan dapat dipercaya...
untuk menjaga dan melindungi...
siapapun yang tinggal di didalamnya...

Seandainya aku adalah cinta..
Seandainya aku bisa benar-benar bisa memahami cinta...
Seandainya aku bisa menjadi cinta....

Seandainya.... .


~~Shae, 16 Februari 2013 (02.35 Am)~~