Pages

Showing posts with label CerPen. Show all posts
Showing posts with label CerPen. Show all posts

Monday, July 11, 2016

Percakapan

"Hei! Apa kau tahu? Cintaku pupus."

"Kenapa? Setahuku kau belum menyatakan perasaanmu, namun kau bilang sudah pupus?"

"Aku tahu dia sudah punya pujaan hati."

"Memangnya kenapa?"

"Kenapa bagaimana? Aku tak mau menjadi pengganggu. Itu saja."

"Maka kau pupuskan perasaanmu sendiri?"

"Apa itu salah?"

"..."

"Apa itu salah?"

"Coba kau pikirkan sendiri."

"Aku berpikir kalau tetap berpendirian dalam rasa ketertarikanku padanya, aku akan terjerumus lebih dalam. Setelah mengetahui ini, setidaknya aku belum terlalu masuk dalam perasaan."

"Kau memang orang yang selalu menahan diri. Selalu seperti itu"

"Selalu?"

"Dengan siapapun. Seolah kau tertarik, namun pada akhirnya kau selalu mencari alasan untuk tak melanjutkan ketertarikanmu itu. Rasanya aneh ketika kau tertarik pada orang yang selalu tak bisa kau jangkau."

"Apa iya seperti itu?"

"Apa yang kau cemaskan?"

"Aku tidak cemas"

"Lalu?"

"Hanya saja aku merasa bahwa mungkin bukan dia."

"Haa~h... ya sudahlah..."

"Ini karena aku merasa bebas untuk mencintai siapapun."

"Namun kemudian kau jadi tak bisa berkomitmen dengan siapapun."

"... mmm... haha.."

"Kali ini temukan orang yang menjadikan dirimu sebagai pujaan hatinya. Itu jauh lebih mudah."

"Ide bagus. Tapi apa ada?"

"Ah.. itu.. hmmm.."

***

Kemudian kami terbahak-bahak bersama.

Saturday, October 3, 2015

Derap Langkah Yang Terus Menggoda

Jujurlah pada masa lalumu.

***

Panas, sangat panas. Kulitku protes, dengan menunjukkan belangnya. Mungkin perlu kugunakan kaos kaki. Supaya pigmenku tak terlalu bekerja berat melindungiku dari sinar matahari.
"Tap tap tap tap..."
Derap langkah khas mengalihkan pandanganku dari kakiku sendiri.

Dingin. Sejuk.
Beberapa detik aku merasakan udara disekitarku membeku. Dan setelah derap langkah itu berlalu, waktu kembali meleleh oleh terik matahari.
Aku sadar, bahwa empunya derap langkah itu membuatku tertegun.

Dan semangkuk Soto didepanku kembali meraung-raung untuk segera disempurnakan. Ah, memang ini tempat makan yang terbaik, es jeruk senyumnya juga selalu enak. Es jeruk yang selalu membuat senyum bagi yang meminumnya. Senyum sedikit mengkerut. Karena asam yang segar.

*

Hari belum habis, singgah ke toko buku merupakan hiburan yang terbaik di hari libur. Kuamati barisan buku beegenre psikologi. Aku selalu tertarik kepada buku-buku ini. Sangat menarik

"Tap tap tap tap..."

Reflek aku segera menoleh pada derap langkah itu. Kembali tertegun. Dia muncul kembali, melintasiku. Jujur agak berdebar rasanya.

*

Sore hari udara sudah sejuk. Duduk di pinggir taman sangat pas ditemani buku yang baru saja kubeli.
Tapi sebelumnya aku menengok kanan dan kiri. Apakah kali ini dia akan datang lagi melewatiku?

Tidak kurasa. Maka dengan tenang aku mulai membaca halaman demi halaman dari buku yang kupegang. Tawa dan obrolan mereka yang berjalan menikmati sore di taman seperti musik bagiku. Gesekan daun-daun di pohon beserta kepakan sayap para burung yang hendak bersarang menambah indah harmoni sore ini.

"Sedang membaca apa?"

Kaget. Konsentrasiku buyar oleh suara yang tiba-tiba muncul disampingku.

"Ah? Oh, ini... sedang baca buku.. eee.."

"Sepertinya asyik ya..."

"Eh, umm... iya."

Matanya bening khas anak-anak. Rambut hitamnya lurus dengan model Bob, berpadu dengan rok terusan putih selutut bertali pita di pinggangnya. Sepatu putih dan kaos kaki putih berenda, menambah manisnya penampilan gadis kecil ini.

Sesaat kami diam tanpa kata, tapi biarpun begitu, aku merasa kami sudah saling berbicara melalui mata kami masing-masing.

Kututup bukuku. Kuputuskan untuk mengobrol dengannya saja. Aku merasa tertarik dengan anak ini.
Namun belum aku berkata-kata lagi, wajah anak kecil ini menjadi kemerahan, matanya berair.
Aduh.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Dia belum menjawab, namun kutau dia berusaha menyembunyikan ekspresinya. Dia seperti berusaha untuk tidak menangis.

Sejujurnya aku mulai merasa tidak nyaman. Ada seorang anak kecil menangis didepanku, tapi sekaligus tidak ingin menangis. Apa sebenarnya mau dari si anak ini?

"A-a-aku.. kemarin sakit... iks"

Kata-katanya tidak begitu jelas, namun aku berusaha memahami.

"Sakit kenapa dik?"

"Ke-kemarin... akku dicegat... waktu pulang sekolah... iks... terus aku dipukul.. iks...iks.."

Dia mulai bercerita. Tapi kemudian aku merasa ada yang mengganjal dimataku.

"Aku takuuutt... hikss .. dia ngancam aku... uw... huwee... hiksss..."

Ah... aku merasa aneh... rasanya ingin memeluknya namun aku takut. Takut kalau aku memeluknya, dia malah makin menangis... tapi...

"A-aku... aku padaha-hal nggak... nggak salah... ttapi-tapi tetep dipukul..."

Ini semacam laporan dari anak kepada orang yang lebih dewasa yang ditemui. Kupikir seperti itu. Namun...

"A-aku sakit.. hiks... aku takuuttt.... takuuuttttt.... huweeeeeeeeee..."

Aku nggak tahan lagi. Ganjalan dimataku meleleh. Mencair. Mengalir. Dengan seluruh panjang tanganku, kupeluk anak ini. Dan benar, di dalam dekapku dia semakin meraung-raung, menangis. Kubiarkan saja sampai sepuasnya...

"Lepaskanlah... menangislah sepuasmu .. kamu ingin bebas 'kan?"

Dan dia terus menangis. Tak apa, menangislah sampai tak ada tenagamu untuk menangis. Tak apa. Aku ada bersamamu.

Kupeluk erat anak kecil ini sampai seolah-olah ia masuk dalam tubuhku sendiri. Melebur bersama jantungku.

*

Sinar matahari meredup. Dan kurasa memang sudah saatnya pulang. Kukemas bukuku dan kututup tas selempangku.

Saat kuberanjak dari tempat dudukku, kudengar suara derap langkah kaki itu lagi.

"Tap tap tap tap..."

Biasanya dia akan lewat begitu saja, namun kali ini berbeda. Saat ku menoleh padanya. Ia berhenti. Dan melempar senyumnya padaku. Begitupun aku. Membalas senyum kecilnya yang manis.
Lalu ia kembali berjalan dengan cepat, dengan sepatu putih mungilnya, dengan roknya yang bergelombang mengikuti hentakan langkah kakinya.

Seperti biasa, setelah dia melewatiku dan menghilang, waktu kembali mencair. Meskipun kali ini dia sudah mulai menoleh padaku bahkan menangis, kurasa dia akan tetap terus muncul. Sampai ia benar-benar puas.

Aku kemudian kembali mengingatnya, dia yang selalu ingin menangis namun tak mau, yang lemah namun selalu ingin menjadi yang kuat.
Dan senyumku kusimpan sendiri.

"Kamu sudah makin kuat nak..."
Kukatakan itu padanya, dalam hatiku.

Wednesday, October 23, 2013

Cerita Alam

Langit sangat cerah, awan berarak membentuk suatu pola ; pola tak berpola. Pagi yang cerah tiap harinya, dengan harum bunga dan angin yang lembut. Para cemara menari sesuai bisikan nada aliran sungai dimana ikan-ikan dan karanglah pemusiknya. Burung gereja yang sangat ramah selalu menyapa, bukan berkicau atau bernyanyi. Hanya menyapa. Seolah merasakan indahnya damai surga, sekali kemari maka akan sulit kembali. Serasa tak rela meninggalkan nuansa penuh cinta dari alam.

Terlihat dari kejauhan seorang pria berdiri, memandang langit dengan seksama, entah penuh makna atau duka. Sesekali menunduk, berkedip pada rumput ; berusaha tersenyum. Ironi. Dalam hembusan angin yang ceria terbawa aroma lara. Entah berasal dari pria itu, atau pada pada pandangannya. Atau pada keduanya. Diam. Alam pun terus mengamatinya. Dalam diam.

Dunia adalah menyakitkan menurutnya. Penuh ilusi dan tipu daya, kemenangan hanya pada yang berkuasa atas harta. Atas harta, kuasa sampai wanita. Yang berharta akan berkuasa, yang berkuasa akan bermain wanita. Klasik. Untuk seorang pria naif seperti dia, yang berharap pada kesejatian cinta, dunia begitu memilukan. Semua yang ia cintai, terutama bidadari yang ia harapkan untuk bersamanya, meninggalkannya. Ia tak punya harta, pun kuasa, maka sukar dalam mendapat wanita. Yang ia miliki hanya keyakinan akan masa depan cerah.

"Katakan padaku! Selain harta dan kuasa, apa yang tidak kumiliki?! Hatiku kuat selayak baja, jiwaku dipenuhi semangat emas kejujuran, murninya kilauan berlian tak semurni cintaku pada gadis yang kuharapkan! Mengapa dunia begitu jahat??? Mengapa hanya yang berharta yang bisa mendapatkan segalanya???? Tak ada lagikah yang berhati lurus di dunia ini?? MENGAPAAAA???!!!"

Para burung berhamburan, angin bergejolak, para cemara membuang daun-daunnya. Mereka yang hanya mengamati akhirnya berontak. Suara sungai pun makin keras menghantam. Suara parau pria itu menjadi alasan mereka berontak. Ada yang salah. Ada yang salah pada pandangan pria itu. Atau pada pola pikirnya. Atau keduanya.

Setelah sesaat, alam pun kembali diam. Kembali mengamati. Apa gerangan yang akan dilakukan pria ini? Sungai mulai gelisah. Jangan-jangan pria ini ingin meceburkan dirinya? Ah, tidak mungkin. Sungai terlalu indah dan juga tidak dalam. Ikan menenangkan sang sungai. Atau pria ini ingin menggantungkan dirinya? Para cemara mulai gelisah. Itu tidak mungkin, para cemara terlalu tinggi dan terlalu indah untuk tempat bergantung. Burung-burung menenangkan para cemara. Lalu apa yang kira-kira akan pria ini lakukan?
Mungkin ada yang bisa menolongnya? Kita hanya bisa mengamati. Begitu yang alam pikirkan.

"Kak..."

Terhenyak dari ratapannya, pria ini merasakan ada yang menarik-narik kemeja yang ia kenakan. Dilihatnya seorang anak kecil berhidung mungil dengan tangan yang mungil pula.

"A...ada apa?"

"Kenapa kakak berisik?"

"Ah... maaf, aku kira hanya aku yang ada disini."

"Kakak sedih? Kenapa?"

"Orang yang kucintai meninggalkan aku demi orang yang tidak lebih baik daripada aku."

"Oh... jadi kakak sedih karena ditinggalkan... Kalau kutemani bagaimana? Aku takkan meninggalkan kakak."

Pria ini tertegun mendengar kalimat sederhana yang dilontarkan oleh seorang anak kecil yang ada disampingnya.
Tanpa ragu sang anak duduk beralaskan rumput yang lembut, dengan sekali tarikan saja, pria ini juga terduduk disamping sang anak.

Mereka saling berbicara, bercanda dan tersenyum. Dan alam masih mengamati.

"Kau begitu kecil, berapa umurmu?"

"Bulan besok aku masuk sekolah menengah pertama."

"Dua belas? Atau tiga belas?"

"Sebelas. Aku memang paling muda dikelasku."
Kepalanya sesekali digoyangkan ketika bercerita, membuat rambut lurusnya juga bergoyang. Angin sedikit berperan dalam hal ini.

"Oh, pantas. Memang masih kecil." Gumam tawa menggema dari bibirnya.

"Kalau kakak? Dua puluh lima?" Mata coklatnya berkilat penuh selidik.

"Hmpft... Apa aku terlihat setua itu?"
Tawa akhirnya meluncur melalui suaranya. Untuk beberapa saat alam sepertinya ingin tertawa juga. Tapi mereka menahannya.
"Enam belas. Aku baru enam belas tahun."

"Oh.... Baru enam belas... lalu kenapa sudah berpikiran seperti sudah berumur dewasa? Kakak kan belum dewasa?"

"Apa maksudnya?"

"Suara kakak tadi kencang. Kata ibu, hal-hal seperti harta dan yang lainnya hanya perlu dipikirkan oleh orang dewasa. Tapi ada apa sebenarnya?"

"Hanya pelampisan. Hanya ingin berteriak. Hanya itu saja," ucapnya sambil tersenyum simpul.

"Kakak kelihatannya pintar, wajah kakak juga lumayan. Tapi lebih baik kakak memikirkan belajar dulu daripada memikirkan hal yang tidak-tidak."

"Hal yang tidak-tidak bagaimana?"

"Itu juga yang dikatakan ibu padaku, sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti. Harta dan teman-temannya mungkin, mungkin itu adalah hal yang tidak-tidak?"

Sesaat mereka terdiam. Berfikir, tenggelam dalam benak masing-masing. Si pria mungkin merenung ada benarnya sang anak dalam berkata. Sang anak mungkin kembali berusaha memahami apa yang pernah ibunya katakan. Ibunya pernah berkata seperti itu ketika ia bercerita tentang temannya yang memamerkan sebuah cincin emas bermata berlian padanya. Ia benci pada temannya yang suka pamer.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

Kini pikiran si pria mulai terbuka. Ia sadar bahwa ia sebaiknya bangga untuk hal yang ia miliki. Prestasi yang cemerlang, termasuk yang ia banggakan. Ia yakin bahwa ia mempunyai masa depan yang cerah. Tak perlu ia memikirkan bahkan tergila-gila pada seorang gadis untuk saat ini. Kini ia tahu, kelak suatu saat dimana dia sudah berada di posisi tepat dalam hidupnya, dengan mengandalkan kejujuran, prestasi dan terutama Tuhan, ia pasti akan menemukan seorang gadis yang tepat pula untuknya. Untuk saat ini, demi seorang gadis yang tepat, tentunya dia harus menjadi seorang pria yang tepat.

"Dik, siapa namamu?"

"Sherly."

"Sherly, pasti ibumu sangatlah baik. Beliau mengajarkan sesuatu yang baik."

"Ah.. iya, ibuku sangat baik. Masakannya juga enak, terutama nasi gorengnya!"
Timpal sang anak dengan penuh semangat.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Sudah kuputuskan. Aku akan mengejar masa depanku dengan belajar keras saat ini."
Ia bergumam. Masih sakit. Atas kekalahannya. Setelah memendam cinta bertepuk sebelah tangan beberapa lama, ternyata gadis yang ia cintai jatuh ke pelukan seorang remaja pria yang memiliki orangtua yang kaya raya. Sedangkan ia hanya seorang remaja pria penerima beasiswa yang berasal dari keluarga sederhana.

"Kak....? Kakak melamun?"

"Eh... maaf, hanya sedikit berfikir. Boleh kapan-kapan aku mencicipi nasi goreng buatan ibumu? Kedengarannya sangat sangat enak..." ^_^

"Tentu! Sangat sangat sangaaatt enak!" Kedua jempol tangannya ia acungkan dengan mantap.

Alam masih diam, sedikit bergumam. Angin bergumam dengan lembut, awan kembali ceria melintasi bukit, burung gereja pun menyapa hati yang mulai bangkit. Nuansa damai kembali menyeruak.

"Sudah beranjak sore. Aku ingin pulang. Kau sebaiknya pulang juga Sher."
Sedikit meregangkan badan, dan si pria mulai melangkah maju.

"Ah, iya."

Dengan langkah kecilnya sang anak berlari berusaha mengikuti langkah si pria. Dan kembali berhasil menarik kemeja si pria. Hampir. Hampir saja si pria tak kuasa menahan bebannya sendiri. Untung saja gerak reflek melarangnya untuk jatuh.

"Ada apa? Sherly?"

"Besok kakak kesini lagi? Kubawakan nasi goreng buatan ibuku. Mau?"

Si pria terdiam sesaat. Lalu tersenyum hangat.
"Tentu saja.."

Tangannya mengusap kepala sang anak. Membuat rambut pendek sang anak sedikit tak beraturan.
Sampai-sampai sang awan pun tertawa melihat rambut sang anak. Tapi sang anak terlihat tak peduli.

"Asik... "
Tapi belum ia lepaskan tangannya dari kemeja si pria.

"Eh iya. nama kakak siapa?"

"Namaku? Namaku...........





                                                                                                            ==End==

Friday, February 15, 2013

Salahkah Jika Mencinta?

Apakah salah jika menginginkan hidup yang lebih baik?
Apakah salah jika menginginkan kebahagiaan?
Apakah salah jika menginginkan kesenangan?

"Kau!! Kau sudah membuat malu seluruh nenek - kakek moyang dan seluruh darah keturunanku!!"

Apa? Kenapa bisa? Apa aku salah?

"Kau pikir aku sudi memakan nasi dari uangmu???? Melihatnya pun aku tak sudi!! Jika saja kau memberitahuku darimana uang-uang itu berasal... Aku- a - aku... Aku akan... Aaaaarrggghh!!!!"

Apa salahku? Kenapa dia semarah itu? Semurka itu? Sekacau itu?
Teriakannya menggema keseluruh sudut rumah, merambati udara, menekan kepalaku kuat. Sakit. Sakit kurasa.
Kupegang kepalaku kuat-kuat, kutekan daun telingaku, menghindar dari suara seraknya yang kuat tak beraturan.
Tahu-tahu lututku sudah ada di depan hidungku.
Gemetar...

"Aaaaaaarrggghhhh!!!! Ampuni dia!! Ampuni diaaa Tuhaaannn!!! Ampuni hambamu iniii... ampuni kamiiii ... Aaaaarrrggghhh!!!"

Lari.
Tidak.
Lari.
Tidak.
Haruskah aku lari? Lari kemana?

Kenapa? Kenapa orang renta ini terus menerus berteriak? Bahkan dia menunjuk-nunjuk kepalaku.
Kepalaku yang layu.
Apa aku salah? Apa aku sesalah itu sampai-sampai dia ingin membunuhku dengan suara sumbangnya dan dengan matanya yang menusukku itu?
Dia ingin membunuh tanpa menyentuhku dari singgasana kursi roda tua yang ia duduki?
Jujur, aku lebih memilih dia menusukku dengan pisau dapur, langsung ke jantungku!

"PERGIIII!!!! PERGI DARI RUMAHKUUU!!!! KAU ANAK DURHAKA!!"

Apa?
Pergi? Pergi katanya?
Kubuka tanganku, kujauhkan dari wajahku yang berhias air mata.
Pelan kutegakkan kepalaku, menatap matanya yang garang...

"Apa? Ibu me- mengusirku??"

"Berani-beraninya kau menyebutku IBU???? Aku bukan Ibumu!!! Kau bukan anakku lagi!!!"

Seakan tersambar petir ratusan kali, tubuhku serasa lemas tak bertenaga, lutut yang menjadi penopang ragaku kali ini pun goyah. Kaki yang sudah terkulai pun makin terasa tak bertulang.
Aku tak percaya dia mengatakan itu.
Aku tak mau percaya!!!

"Apa? Ibu.. Kau .. Kau tak mengakuiku? Kau.. membuang..membuangku?"

Perlahan tapi pasti, segala takut dan sedihku berubah menjadi amarah. Aku dapat merasakan detik-detik air di batang nadiku naik menuju ujung kepala.

Meledak.

"Huh. Kau pikir kau siapa? Kau cuma nenek-nenek yang manja, buang air pun harus dengan orang lain. Kau pikir siapa selama ini yang memandikanmu? Mencebokimu? Memberimu makan dan mencuci semua pakaian kotor bekas kotoranmu itu????"

Kurasakan kepuasan. Melihat wajahnya yang syok membuatku mampu mengangkat lututku, kutegakkan kakiku dan berdiri dihadapannya dengan lantang.

"Berkat siapa sisi rumah ini menjadi dinding? Berkat siapa lantai ini menjadi keramik?? Aku!! AKU BU!!"

"Seandainya bukan karena aku, kau masih harus tinggal di gubuk reyot peninggalan bapak! Suamimu yang sudah mati itu!!"

"Dan siapa yang selama ini mengantar kau berobat ke dokter? Siapa yang selalu rela meluangkan waktunya yang padat hanya untuk mendengar ocehan tentang sakit pinggang dan hampanya rasa lututmu itu??"

"SIAPA?? SIAPAA??? JAWAAAAAAAAABBB!!!!"

Hah... rasanya seperti tercekik... Lega sekaligus sakit.
Melihat mulutnya yang ternganga sembari memegang dadanya, nafasnya tersengal-senga, aku menghentikan bicaraku. Wajahnya berkerut, memperkaya kerut yang sudah permanen di wajahnya. Beberapa detik kemudian tangisnya meledak, seluruh wajah ia tenggelamkan ke kedua tangannya yang sudah rapuh itu.

Ia menjadi seperti aku di beberapa menit yang lalu.
Aku puas.
Aku puas dan sakit.

Salahkah aku? Salahkah aku jika ingin hidup bahagia?
Salahkah aku jika aku mencintai seseorang?
Salahkah aku jika aku menerima semua pemberian dari orang yang kucintai?

"Ibu... ibu hanya ingin kau sadar nak... I- ibu hanya ingin kau sadar.. Semuanya ini tidak benar... Salah!"

Memang ... aku tahu orang yang kucintai sudah beristri.
Tapi aku mencintainya! Kami saling mencinta!
Apa yang salah dari orang yang saling mencintai???

"Aku mencintainya bu.. Aku mencintainya. Semua.. Semua yang kuterima juga merupakan rasa cintanya padaku bu! Kami saling mencintai!!"

"Ibu tak sanggup, apa yang akan terjadi nanti.. Ketika berita tentangmu menyebar... Ibu tak sanggup..."

Kali ini pandangan matanya kosong dengan arus airmata tak berkurang. Lengannya ia biarkan terkulai begitu saja. Melihatnya yang seperti itu membuatku sakit!!

"Ibu tadi menyuruhku pergi? Baik aku akan pergi. Aku harap ibu dapat menjaga diri baik-baik."

Kubaikkan badanku dan berjalan menuju pintu. Gontai. Tenggorokanku seperti dicekik. Sakit.

"TUNGGUUU!!! Mau kemana kamu??? Jangan pergi sebelum kau menyadari apa yang menjadi salahmu! NAKKK!!!"

"Aku akan tinggal bersama Mas Hadi. Dia sudah membelikanku rumah. Aku akan tinggal dirumah itu bersamanya."

Kuberbicara membelakanginya, aku tak ingin melihat wajahnya yang membuatku sakit... Tapi tak apa, nanti akan kutelepon yayasan panti jompo untuk menjemputnya. Ya. Pasti. Tak apa. Tak apa. Tak apa, tapi... Kenapa aku menangis?


"JANGAN PERGIII!!! JANGAAAANNNN!!! JANGAN PERGIII!!! RIANTOOOO!!! JANGAN PERGI RIANTOOO!! KAU SALAAAAHHHHH... !!!"





~~~~~~~~~~~~~~~~Untuk khayalan liarku, terimakasih~~~~~~~~~~~~~~~