Pages

Wednesday, January 9, 2019

Hai Cinta! Kau disana?

Tercipta dengan kehendak bebas, itu manusia
Manusia itu aku, yang ingin bebas mencinta
Mencinta apa yang ada mengelilingiku, mencinta diriku
Diriku, selalu berkata aku
Lalu keraguan muncul, apakah aku benar sedang mencinta... ataukah ingin dicinta saja?

Saat datang yang mengoyak jati diri yaitu kesombongan, berlutut mohon ampun saja rasanya tidak cukup...
Aku, manusia, sangat malu dihadapan Sang Cinta Sejati...
Siapa aku, yang menyombong bisa memikul semuanya?

Aku merasa biru itu indah, kuning itu cantik, oranye itu memikat, merah itu mepesona, hitam itu menarik...
Semua warna aku menyukainya...
Kutumpahkan keatas kertas putihku
Kulukiskan, kucurahkan ekspresiku dalam warna-warna dan titik-titik serta garis-garis..
Kubuat luar biasa...
Kupandangi kertasku..
"Ah.. betapa indahnya" pikirku

Sangat puas dengan tanganku, aku tunjukkan kertasku pada semua orang yang kutemui
Kubanggakan dengan mewah,
"Ini karya dengan CintaNya!" Kataku
Hatiku meninggi..
Disini... Sang Sombong merasukiku
Mengatas namakan Cinta padahal egoku yang kukobarkan

Sang Cinta tentu kecewa,
Padaku yang memamerkan ego  beratas namakan Dia...
Dan dipersiapkan sesuatu untukku,
Untuk melepasku dari jerat parasit yang bernama Sombong

Kertasku, yang indah menurutku, dipilin..
Dipilin hingga gambarnya tak terlihat, warnanya tak terlihat, dan bentuknya menjadi kusut lurus...
Lalu dimbil api dari lilin abadi,
Ujung kertasku dinyalakan...
Kertasku terbakar...
Menjadi abu...
Menjadi bentuk lain...
Aku diubah...

Dipilin, dibakar, menjadi abu
Kertas itu adalah jiwaku,
Aku.

Tuesday, December 18, 2018

Teringat.. Mengingat...

Kukira aku sudah bebas,
Kukira aku sudah melangkah jauh darimu..
Kukira aku sudah bisa terlepas dari bayangmu...

Tapi tidak, sebuah batu kecil dilempar pada benakku,
Dan memori tentangmu berhamburan memenuhi diriku...
Rasa hangat saat aku dan kau masih bersama, masih terasa di hatiku...
Aku belum bisa lepas dari kenangan tentang betapa manis dan lembutnya perasaanku, perasaanmu, perasaan kita kala itu...

Aku bersalah waktu tidak sering memperhatikanmu, sedangkan kau selalu mencurahkan perhatianmu padaku...
Kau mengungkapkan rasa kasihmu padaku yang sangat kikuk, dan tak bosan mengatakan betapa rindunya untuk bertemu...
Aku yang sangat kikuk, dan ragu...
Aku yang bersalah karena sering tidak jujur dan sering menghindar darimu...
Kau tau? Aku hanya malu, dan kikuk saat berbincang denganmu...

Perhatian, kasih, dan sentuhanmu pada hatiku masih terngiang...
Tapi semuanya sudah menjadi kenangan...
Dan di titik ini aku menyadari bahwa aku masih belum bisa bebas dari bayangmu yang mengasihiku saat itu...

Apakah aku bisa bertemu dengan seseorang sepertimu ? Aku ragu.. bertahun-tahun aku belum menemukan yang sama sepertimu... Tak ada yang sama sepertimu...

Di titik ini, aku menoleh kebelakang, pada bayangmu - dimana kau sudah tak ada lagi disana...
Tak ada rasa sakit atau amarah atau kecewa... hanya rindu...
Aku ingin menjadi seorang putri drama sejenak, untuk kembali merasakanmu dalam benakku...
Sebentar saja...

Biarkan aku merasakan kembali kelembutan dan hangatnya hatimu dalam ingatanku...
Biarkan aku memilikimu dalam kenanganku sepenuhnya...
Sehingga pada saatnya aku dapat percaya, kau yang baik yang boleh aku temui dalam hidupku adalah bagian dari pelajaran hidupku yang sangat berharga...

Aku belajar tentang kejujuran, keterbukaan, kepercayaan, kehangatan hati yang penuh cinta dari sebuah relasi...
...
Terimakasih sudah menjadi bagian dari kisah diriku...

Doaku untukmu agar sehat dan bahagia selalu...

Thursday, January 4, 2018

Being loved, yet not believe in Love

Sepatunya sudah usang, sudah lama ia pakai untuk berlari. Alas sepatu sebelah kirinya sudah sangat tipis, seperti sepatu penari balet, padahal pada awalnya adalah sepatu lari. Ia berusaha berlari dan terus berlari, bersembunyi, lalu berlari dan berlari lagi.

Kadang ia lelah, kadang ingin berhenti berlari, tapi berlari dan bersembunyi adalah pertahanan diri yang terbaik yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan diri. Itu pikirnya. Maka meski sudah berada diujung tanduk, diujung tebing, diujung jalan yang hampir tak berujung, ia selalu mencari cara agar bisa mengelak, menghindar, dan berlari lalu bersembunyi. Ia takut hancur. Menghadapi apa yang mengejarnya akan membuatnya hancur. Ia memilih untuk tetap berusaha utuh.

Utuh menurutnya adalah terlihat baik-baik saja, terlihat sehat, gembira, bahagia, ceria, positif. Sesedih-sedihnya, sekalut-kalutnya, seterpuruk-puruknya, senegatif apapun perasaannya, akan ia tekan kuat-kuat didalam tekadnya untuk bersembunyi. Topeng-topeng sikap positif dan baik ia keluarkan, untuk melindungi dirinya. Jangan sampai orang lain tau bahwa ia sebenarnya rapuh, ia ingin terlihat kuat. Ya, terlihat kuat, terlihat ceria. Jika kerapuhannya terlihat oleh orang lain, maka hancurlah dirinya - itu pikirnya.

Dosa terbesarnya adalah penolakan. Yang mengejarnya adalah perhatian, yang ia hindari adalah ikatan kasih sayang, yang membuatnya tertekan adalah cinta. Ia tidak bisa menerima bahwa sebenarnya ia dicintai, bahwa sebenarnya ia sangat berharga untuk dipertahankan. Namun yang ia rasakan adalah rasa sakit saja. Ia belum bisa menerima bahwa ia begitu dicintai dan diperhatikan. Trauma masa lalu masih membelenggunya, ia enggan membebaskan dirinya alih-alih demi melindungi dirinya yang mudah pecah, rapuh.

Pengecut. Ia mengakuinya, bahwa ia pengecut, penakut. Rasa rendah diri menghantuinya, merasa tidak mampu menghadapi Cinta yang begitu besarnya, ia menolak bahkan sering menyangsikan Cinta itu sendiri. Ia terus berlari, dan bersembunyi.

Yang ia tahu, waktunya sudah dekat, ia harus hancur, dihancurkan. Hancur agar dapat terbentuk menjadi yang baru. Namun ia masih meringkuk dalam goa nya, berusaha mengumpulkan keberanian, yang sering terhempas oleh pikiran-pikiran pesimistis miliknya sendiri.
Betapa sulit menjadi diri sendiri, pikirnya...
Sebentar lagi, itu yang ia inginkan...
Namun Sang Cinta terus memojokkannya, dan berkata :

SEKARANG.

Sunday, August 27, 2017

Jingga Keemasan

Langit warna merah jingga menyilaukan mataku,
Matahari dengan sinar emasnya menelan seluruh perhatianku,
Cantik.. sangat cantik..

Jingga keemasan melarutkan warna biruku,
Biru muda terangku tertarik jingga keemasan...
Ah... warna yang memabukkan...

Ada tiga matahari, dan ada suara tertuju padaku :
"Pilihlah matahari sesuai hatimu."
Aku memilih matahari dengan sinar keemasan dengan latar jingga yang sudah menelan biruku.

Suara air terjun dalam goa mengiringi warna jingga keemasan yang menari-nari.
Siapakah engkau yang berdiri disana?
Di seberang sungai yang berkilau..
Wajah yang kukenal sekaligus asing, wajah yang kuingat sekaligus yang kulupakan...
Siapakah engkau?

Aku berpuisi dalam mimpi, aku terpana oleh matahari dengan sinar keemasan, dengan langit jingga, terpana saat biru terangku membaur dengan jingga keemasan, terpana saat menemukanmu di seberang sungai dalam goa ...
Sebentar saja kulihat engkau, tapi...
Aku terbangun...

Mimpi tentang puisi, mimpi tentang jingga keemasan, mimpi tentang engkau diseberangku.
Aku terbangun dengan mata yang masih mengingat sinar langit yang lembut namun mengagumkan itu.. masih dengan... ah..
Kurasa.. aku melupakan wajah itu.. wajah asing yang kukenal itu...












*L Sherlyana* 27-08-2017

Sunday, August 20, 2017

Aku Iri

Ada beberapa hal baru yang kucoba untuk kumengerti, dan ada yang harus kuterima tanpa kumengerti.
Ada beberapa hal yang membuatku senang dan beberapa hal yang membuatku sedih.
Ada beberapa hal yang membuat hatiku ringan, beberapa hal yang membuat kepalaku nyeri.

Mencari tanpa harus mengetahui, melangkah tanpa harus tau arah, bernyanyi tanpa harus tau nada selanjutnya, melukis tanpa tahu gambar akhirnya menjadi seperti apa...
Apa yang sedang kucari? Rute mana yang harus kutempuh? Lagu apa yang sedang kunyanyikan? Gambar apa yang sedang kulukis?
Apa tujuan hidupku? Mengapa aku diciptakan?

Aku merasa kadang Dia curang...
Beberapa orang boleh langsung mengetahui, beberapa orang boleh langsung berjalan pada rute berikutnya..
Ah.. iya, aku iri.

Aku merasa menjadi paling menyedihkan... paling menderita..
Bolehkah?
Padahal di sisi lain aku tau dan merasakan CintaNya, aku tau aku dicintai...
Hanya saja... aku belum puas dalam rasa sedihku. Di sisi lain aku terlalu takut menerima kesedihanku. Menyesakkan.

Pada dasarnya aku cenderung masuk ke kategori plegmatis, namun aku sekarang aku berada dalam fase melankolis.

Iya, aku iri...
Iya, aku sedih...
Iya...
Iya...
Iya...

Iya, aku sulit menerima kesedihanku.





***kepada sosok yang sudah menderita dalam waktu tidak sebentar, aku menyayangimu, menantikanmu, mengakuimu, aku tahu bahwa engkau sudah berjuang dengan baik untuk sampai disini***

Sunday, June 11, 2017

Mencintaimu

Mencintai seseorang itu menyakitkan. Bagaimana tidak? Rasa nyeri itu nyata, dari nyeri lambung sampai nyeri dada karena terlalu memikirkan seseorang. Apakah hanya aku saja?

***

Mencintaimu itu seperti merelakan tanganku tertusuk duri. Dirimu indah seperti bunga berwarna terang, namun berduri tangkainya. Aku memutuskan untuk menatap keindahanmu saja, tapi apa daya hatiku pun terjebak oleh daya tarikmu.

Aku masih tetap menatapmu. Rasa nyeri ini adalah bayangan bila aku sampai mengenai durimu. Aku menghindari rasa sakit. Aku selalu menolak untuk terjatuh dalam cinta personal... namun aku kali ini terjebak.

Ah... rasa sakit tujuh tahun lalu itu masih membayang, aku masih merasa enggan untuk mengakui diriku bahwa aku sudah jatuh dalam rasa personal (lagi). Ada rasa khawatir.

Aku hanya ingin cinta universal saja, tapi Dia sering bercanda dan memberikan hal-hal yang kadang bukan keinginanku saat ini.

Aihhh... rasa sakit itu muncul lagi, bahkan saat menulis coretan ini...

Apalah manusia tanpa cinta, aku bersyukur bisa merasakan rasa nyeri ini. Ini bukti bahwa aku (masih) punya sisi manusiawi...
--

Sherly, 11-06-2017

Friday, March 10, 2017

Aku Petrus

Setiap manusia mempunyai junjungannya masing-masing. Aku juga mempunyai junjunganku. Junjungan yang sangat kuhormati, dimana aku selalu setia berada disampingnya. Dia dapat membuat mukjizat-mukjizat, menyembuhkan orang-orang bahkan membangkitkan orang mati. Dia sangat berkuasa dan sangat hebat, Dialah Guruku.

Pada suatu malam Dia mengajakku dan dua muridNya yang lain juga secara khusus ke sebuah taman di kaki bukit zaitun. Dia meminta kami berjaga-jaga bersamaNya. Kami berusaha terjaga, namun kami sangat mengantuk dan kami pun tertidur. Kemudian Dia datang dan bertanya padaku, apakah aku tak sanggup berjaga-jaga denganNya selama satu jam saja. Aku sangat heran, Dia yang selalu tenang dan berwibawa terlihat sangat cemas dan gentar. Kami saling bertanya satu sama lain, tentang apa yang terjadi padaNya.

Ketika kami tertidur untuk yang kedua kalinya, Dia datang dan mengatakan bahwa "sudah waktunya". Aku masih belum tahu apa yang Ia maksud. Tapi memang Dia sering berkata hal-hal yang aku tak mengerti, atau belum bisa kumengerti. Ia kemudian mengajak kami berkumpul lagi bersama dengan murid-muridNya yang lain.

Datanglah serombongan orang membawa pedang dan pentung menghampiri kami saat Ia sedang berbicara dengan kami. Aku memasang kewaspadaanku, mau apa orang-orang ini? Kulihat Yudas ada bersama rombongan itu. Dia membisikkan sesuatu kepada mereka dan kemudian mendatangi Dia. Aku sudah curiga sejak kedatangannya bersama rombongan itu. Inilah yang dimaksud Dia saat kami mengadakan perjamuan semalam, ada yang akan mengkhianatiNya!

Setelah Yudas mengucapkan salam dan menciumNya, dengan segera serombongan orang itu menangkapnya dengan kasar, dengan tanpa hormat, dengan sangat kurang ajar!
Berani-beraninya mereka memperlakukanNya seperti itu! Aku sangat tidak terima, aku tidak terima jika Guruku disakiti dan dihina seperti ini!

Tanpa ragu kutarik pedangku dari sarungnya, kusabetkan pada mereka yang menahan Guruku! Ingin kulenyapkan semua yang menyakiti dan menghina junjunganku! Sabetan pedangku mengenai salah satu dari mereka, mengenai telinga salah satu dari mereka. Aku berhasil memutuskan telinga salah satu orang yang sangat kurang ajar itu!

Tanpa kuduga, Dia malahan menyuruhku untuk menyimpan kembali pedangku dan mengatakan bahwa tidak seharusnya aku mengeluarkan pedangku. Dan Ia lalu menyembuhkan orang itu dengan menyatukan kembali telinganya. Aku sangat heran. Kenapa aku tak boleh membelaNya? Kenapa ia tak mau kubela? Supaya tergenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci? Bagaimana bisa aku tidak marah jika Engkau diperlakukan seperti itu?
Dia... menolakku?


 ***

Aku mengikuti Dia yang ditangkap dari jauh. Dia dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Disana Ia diberikan tuduhan-tuduhan palsu. Namun begitu Ia tak menjawab suatu apapun. Sampai saat Ia mengatakan hal yang membuat Kayafas sang Imam Besar mengoyakkan pakaiannya, Ia diteriaki telah menghujat Allah. Dia lalu dipukul oleh suruhan-suruhan Imam Besar bahkan diludahi wajahNya.

Aku sangat marah, sedih, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu. Sosok yang menjadi kebangganku, seorang yang punya Kuasa Besar dan sangat dihormati, dihina dihadapanku, diteriaki hukuman mati. Seandainya Ia memperbolehkanku membelaNya, seandainya Dia menjawab semua tuduhan palsu yang diajukan kepadanya...
Aku tak tahan melihatNya seperti ini...

Tiba-tiba ada yang menanyaiku di depan orang banyak, hamba perempuan ini tahu bahwa aku selalu bersama-sama denganNya. Tapi aku sangat ketakutan di hadapan orang banyak dan aku menyangkal perkataannya. Saat aku mendekati pintu gerbang, ada hamba perempuan lain juga menunjukku di hadapan orang banyak. Maka aku bersumpah bahwa aku tidak mengenalNya. Aku menghindari kerumunan itu, namun datang lagi kerumunan lainnya dan kembali menekanku dengan pernyataan mereka. Aku sangat takut maka aku menyangkalNya lagi. Tak lama, aku mendengar suara ayam berkokok...

Sungguh aku tak bermaksud menyangkalNya... Namun inilah yang terjadi, perkataanNya malam itu sudah tergenapi. Aku yang berjanji setia kepadaNya benar-benar telah menyangkalNya. Aku yang telah berusaha membelaNya malahan benar-benar telah menyangkalNya...

Aku sangat tidak pantas...

====================================




Catatan penulis :

Tulisan ini dibuat saat masa prapaskah dan kebetulan karena di masa ini aku sering dihadapkan pada Injil Matius tentang kisah sengsaraNya, juga karena film The Passion Of Christ yang kutonton kembali. Kisah Santo Petrus sangat menyentuh sekaligus menamparku. Aku merasa ada sisi manusiawi St Petrus yang juga kita miliki.
Kita juga seorang murid. Saat kita berkomitmen untuk setia pada Guru kita, saat kita berkomitmen menyangkal diri untuk bisa mengikutiNya, tak jarang malahan kita jadi menyangkalNya untuk bertahan di zona nyaman. Kita tak setia pada komitmen yang sudah dibuat.
St Petrus dengan karakter "batu"nya mengalami pergulatan yang luar biasa. Saat dia mau membelaNya, tapi olehNya dia tidak diperbolehkan untuk membelaNya. Dan betapa kecewa juga ia karena Gurunya yang sangat punya kuasa bahkan terhadap kematian dan bisa membangkitkan orang mati, menjadi sosok yang sangat lemah di hadapan banyak orang.

Sangat mudah untuk bisa setia pada orang yang terlihat kuat dan punya kuasa. Kita dapat dengan mudah berkata bahwa kita setia pada orang (yang kita anggap) hebat seperti itu. Alih-alih kita berkomitmen untuk setia dan melindungi orang hebat ini, sebenarnya karena kita yakin bahwa orang-orang hebat ini pada akhirnya dapat menolong kita, maka kita berani mengajukan diri untuk bisa menolong mereka / menolongnya.
Kalau pendapatku (menurut pengalamanku) ini benar, maka wajar kenapa St Petrus yang sangat keras itu pun menjadi sangat takut dan menyangkalNya di hadapan orang banyak.

Namun kita tak boleh membuat hal yang "wajar" menjadi tameng penghalang untuk kita bisa lebih maju, untuk lebih mendekat padaNya. Seperti yang kita ketahui pada proses dan akhirnya St Petrus menjadi salah satu muridNya yang dengan lantang mewartakan kabar gembira dariNya.
Dan dia menjadi Paus pertama, dan seorang martir yang tak mau disalibkan sama seperti Gurunya. Ia merasa tidak pantas disalibkan sama sepertiNya. Maka ia minta untuk disalibkan secara terbalik.

Merupakan sebuah kewajaran jika kita manusia memiliki kelemahan terhadap suatu godaan jahat yang menjauhkan diri kita dariNya. Namun menjadi sebuah hal yang istimewa ketika kita berani untuk menyangkal diri - menolak godaan-godaan itu dan dengan pasti melangkah untuk mengikutiNya --- melalui sebuah pertobatan.

Selamat berjuang...!


11/03/2017, dini hari
Sherlyana

Saturday, September 24, 2016

Ketika Si Pengikut Dipaksa Agar Dapat Diikuti

Beberapa orang merasa menjadi penguasa adalah suatu impian, dimana banyak orang tunduk dan patuh pada setiap perintahnya. Beberapa orang merasa bangga ketika dapat memimpin suatu pasukan. Tapi itu semua bukan aku. Aku seorang pengikut.

Ini zona nyamanku, zona pengikut.
Berada dibalik punggung orang lain, merasa aman dibalik perlindungan orang lain, dan merasa tenang ketika dapat mengandalkan orang lain. Mengikuti perintah dan ajakan untuk berbuat sesuatu alih-alih karena aku merasa itu adalah suatu kewajiban karena orang atau orang-orang tersebut sudah melindungi dan menjagaku. Dan agar tetap seperti itu selalu.

Satu kelebihan yang kemudian kusadari adalah bahwa aku mampu untuk mendorong dan menyemangati orang-orang disekitarku. Aku dapat mendorong mereka dari belakang. Itu fungsiku kenapa aku berada dibalik punggung orang-orang. Aku sangat senang dengan kemampuanku yang kusadari ini...

Namun...
Aku jadi menganggap kemampuanku inilah kepunyaanku satu-satunya. Aku jadi tidak berkembang. Aku masih berada di zona nyamanku.

Kemudian aku mengintip kedepan, dari sela punggung orang-orang yang berada didepanku. Takut. Menghadapi posisi depan sangat membuatku khawatir. Aku lebih nyaman berada dibelakang. Aku mengintip lagi, dan rasa takut itu masih selalu muncul.

Kemudian tiba saatnya, aku mengambil langkah. Sudah kusiapkan mental untuk bisa beralih, untuk berjalan didepan. Mungkin Sang Pemimpin Abadi masih melihat keraguan dalam diriku. Maka kemudian aku "dipaksa"Nya untuk segera berjalan didepan. Aku ditarik kedepan. Cemas, gugup, merasa tak berdaya. Tapi aku sudah tak bisa mundur lagi.

"Sudah saatnya," kataNya.
"Kemampuanmu untuk mendorong, namun kamu juga harus merasakan bagaimana caranya untuk menarik dari depan", lanjutNya lagi.

Aku menurut. Aku melawan keinginanku untuk dapat berada dibelakang. Aku memegang rasa takut dan cemasku, kurasakan detil-detil ketakutanku. Kuangkat wajahku dan kulihat jalan di depan. Dia sudah tak ada didepanku. Aku tak dapat melihat punggungNya lagi. Dan orang-orang sekarang berada dibelakangku.

Saat bimbang dan ragu, tanganku digenggam. Ternyata Dia ada disampingku sekarang. Rasa cemas dan takut perlahan kulepaskan. Aku percaya padaNya, yang menaruh kepercayaan kepadaku.

Aku berada didepan, tapi bukan serta merta aku menjadi pemimpin utama. Ia adalah pemimpin sejatinya. Aku dibimbingNya pelan-pelan. Kadang agak dipaksa, karena kebimbanganku yang terlalu lama.
Tapi pada intinya, sekarang biarpun berada dibelakang atau saat berada didepan, Dia selalu ada untukku.

Saat dibelakang, Dia membantuku untuk mendorong. Saat didepan, Ia mengajariku dengan seksama bagaimana cara untuk menarik, dan menarik juga bersamaku.
Aku percaya dimanapun posisiku berada, Dia selalu ada disampingku.

Monday, July 11, 2016

Percakapan

"Hei! Apa kau tahu? Cintaku pupus."

"Kenapa? Setahuku kau belum menyatakan perasaanmu, namun kau bilang sudah pupus?"

"Aku tahu dia sudah punya pujaan hati."

"Memangnya kenapa?"

"Kenapa bagaimana? Aku tak mau menjadi pengganggu. Itu saja."

"Maka kau pupuskan perasaanmu sendiri?"

"Apa itu salah?"

"..."

"Apa itu salah?"

"Coba kau pikirkan sendiri."

"Aku berpikir kalau tetap berpendirian dalam rasa ketertarikanku padanya, aku akan terjerumus lebih dalam. Setelah mengetahui ini, setidaknya aku belum terlalu masuk dalam perasaan."

"Kau memang orang yang selalu menahan diri. Selalu seperti itu"

"Selalu?"

"Dengan siapapun. Seolah kau tertarik, namun pada akhirnya kau selalu mencari alasan untuk tak melanjutkan ketertarikanmu itu. Rasanya aneh ketika kau tertarik pada orang yang selalu tak bisa kau jangkau."

"Apa iya seperti itu?"

"Apa yang kau cemaskan?"

"Aku tidak cemas"

"Lalu?"

"Hanya saja aku merasa bahwa mungkin bukan dia."

"Haa~h... ya sudahlah..."

"Ini karena aku merasa bebas untuk mencintai siapapun."

"Namun kemudian kau jadi tak bisa berkomitmen dengan siapapun."

"... mmm... haha.."

"Kali ini temukan orang yang menjadikan dirimu sebagai pujaan hatinya. Itu jauh lebih mudah."

"Ide bagus. Tapi apa ada?"

"Ah.. itu.. hmmm.."

***

Kemudian kami terbahak-bahak bersama.

Monday, January 18, 2016

Melalui Doa aku Mencinta

Saat sedang berjalan di keramaian, ada yang menyapaku.

"Bertepuk sebelah tangan, kamu telah memilih takdirmu sendiri."

Tentu aku sangat kaget dengan kalimatnya. Bertepuk sebelah tangan? Aku? Bagaimana bisa?

Namun aku hanya bisa diam. Sampai akhirnya dapat segera sadar dan sanggup menata kata-kata.

"Bertepuk sebelah tangan adalah mengibaskan tangan ke udara dan berharap ada tangan orang lain yang menyambut sehingga dapat saling bertepuk. Tapi, rasaku bukan seperti itu."

Sejenak aku memperhatikan mimik mukanya. Lalu setelah yakin dia tak akan memotong perkataanku, aku lanjutkan kalimatku.

"Aku mencintainya dengan tangan yang mengudara- dan mendarat di dadaku. Aku mencintainya dengan doa. Meskipun kata orang lain ini adalah kesia-sia-an, namun dengan ujub doa demi kebahagiaannya, aku merasa dia tidak jauh."

Orang asing ini mengerutkan dahinya dan melontarkan pendapatnya,
"Bukankah hal itu tak membuatmu dekat dan tak mungkin dia mengetahui perasaanmu. Itu memang sia-sia."

"Aku melihatnya sebagai sayap.. sepasang sayap. Memiliki hak bebas untuk terbang dan bertumbuh. Aku juga sedang bertumbuh, saat melihatnya yang sudah bertumbuh begitu indahnya, menjadi penyemangatku untuk juga dapat bertumbuh dengan baik lagi."

Aku membayangkan wajahnya sebentar, merasa tenang.

"Apakah dia tahu atau tidak tentang kekaguman dan kecintaanku padanya, aku tak peduli. Aku ingin melihatnya bahagia dengan pertumbuhannya. Maka akupun dapat bahagia, dan bangga atas pertumbuhannku. Karena dia yang mengajariku untuk dapat berbangga diri atas pertumbuhan diri."

"Sungguh rumit."

"Tidak. Perasaanku ini sederhana. Hanya saja penghakimanmu terhadap perasaan orang lainlah yang dapat dikatakan sebagai kerumitan."

"Baiklah... Tapi, ingatlah, jangan hanya berdiam pada senja. Masuklah kedalam malam, lalu terbitlah!"

Aku tak begitu mengerti kata-kata terakhirnya. Sementara dia pergi dengan menunjukkan punggungnya padaku dan perlahan menghilang di keramaian.
Aku tak sempat bertanya apa maksudnya...
Pertemuan yang ganjil...

Monday, December 14, 2015

Complicated But Simple

Yang terlihat rumit belum tentu rumit. Namun yang sederhana juga terkadang menjadi rumit. Tak ada yang benar-benar rumit maupun sederhana. Tergantung dari cara pandang kita saja.

Hal-hal yang kita anggap sederhana bisa jadi adalah hal rumit bagi orang lain, dapat pula sebaliknya. Maka kalimat seperti, "Masa' seperti itu saja kamu tak bisa?" Adalah suatu kekerasan mental yang kita pukulkan kepada orang lain. Dan yang lebih kejamnya lagi ketika terlontar kalimat semacam, "Itu kan hal sepele, kenapa juga harus sedih atau marah karena hal-hal itu."

Bro.. Sis.. Setiap pribadi mempunyai kisah perjuangannya masing-masing. Nggak ada yang bebas dari ironi kehidupan. Semisal pun jika ada orang disekitarmu terlihat tanpa luka dan sangat bahagia, jangan iri. Bisa jadi lukanya malah lebih besar dari milikmu.

Sering kudengar komentar-komentar yang bersirat ke-iri-an.
"Dia enak banget ya, apa-apa keturutan. Anak orang kaya sih!"
"Kalau dia mah nggak pernah susah."
"Enak sih, soalnya dia cantik, terus yang diomongin cowok mulu.. hedehh"
"Si A udah sukses ya? Bisa dapat orang mapan. Pengen deh kayak gitu. Punya hidup enak."

Enak enak dan enak. Kehidupan orang lain sepertinya lebih enak ya. Tapi apa iya? Seperti yang kubilang tadi, semua relatif. Kita diberi kesusahan sesuai porsi masing-masing. Menganggap orang lain lebih susah itu namanya mengasiani. Manganggap diri lebih susah daripada orang lain itu berarti ingin dikasiani. Seolah-olah kisah kitalah yang paling penting dan kisah orang lain tak ada artinya. Padahal jika dihadapkan pada situasi yang sama persis, belum tentu kita bisa menghadapi kesusahan/masalah yang dialami orang tersebut.

Dan kalimat seperti, "Kamu nggak akan bisa mengerti karena kamu nggak mengalaminya!"
Itu... membuatku sakit hati.. Jelas aku nggak bisa sama persis mengalami hal yang pernah kamu atau dia alami. Aku ada bukan untuk menjalani hal yang sama denganmu. aku mempunyai kisahku, kamu mempunyai kisahmu. Namun tak bisa dipungkiri kita dipertemukan oleh takdir dan waktu untuk bisa berbagi kisah-kisah kita. Bagikan kegelisahanmu, bagikan kedukaan atau segala riang gembiramu, sederhana kan?... Meski aku nggak mengerti, tapi aku ada kok...

Menarik hal-hal rumit untuk mencari sumber kerumitan pada awalnya itu tak mudah. Mengungkit kembali sejarah hidup itu nggak seperti kita baca buku sejarah dan sekedar bilang "Ooo.. begitu to ceritanya"

Segala keganjelan - yang seringnya menjadi lontaran kita untuk orang lain - entah itu sikap buruk atau baik -atau iri, ada kaitannya dengan sejarah. Sejarah hidup kita masing-masing. Ada sesuatu yang belum selesai, ketidakpuasan yang tidak terselesaikan. Kalau aku mengibaratkannya itu seperti simpul yang belum tersimpul rapi, namun sudah terbenam dengan simpul-simpul lainnya, yang rapi maupun tidak. Kalau bahasa Jawa-nya adalah mBundet.

Menarik. Selalu saja aku tertarik untuk membahas yang namanya sejarah hidup, karena ini juga otomatis berkenaan dengan karakter manusia juga. Dan aku memang tertarik dengan pendalaman karakter. Bermula ketika aku bertanya-tanya tentang Siapa Aku Ini? Lalu aku merasa mengenal orang lain secara lebih jauh dan lebih dalam sangat menyenangkan. Efek dari pendalaman dan pengenalanku secara lebih jauh dengan diriku.

Nah,, tentang mBundet.. Sebenarnya bisa kita sederhanakan kembali. Memilah-milah, menyederhanakan simpul-simpulnya, dan mendapatkan simpul yang mBundet untuk pertama kali. Diluruskan, lalu disimpulkan kembali dengan rapi. Namun tak semudah kelihatannya. Akan terjadi goresan-goresan dari benang itu. Dan alasan kenapa dulu simpul-simpul itu mBundet- tak sempurna tersimpul bisa ketahui. Tapi perlu diketahui, simpul yang pernah mBundet takkan bisa kembali lurus rapi seperti yang diharapkan. Lekuk-lekuknya tetap kasar meski alasannya kenapa mBundet sudah kita ketahui dan sudah kita simpul ulang.

Sembundet apapun simpulmu, tak mengapa. hehe
Don't worry be happy!
Sekesal apapun dirimu pada dunia.. tak masalah..
Don't worry be happy!
Semenyesal apaun dirimu terhadap masa lalumu,
Don't worry be happy! Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya..
Hadiah yang sangat berharga adalah waktu. Selama ada hadiah itu, sudah lebih dari cukup untuk bisa tetap maju dalam pengembangan pribadi yang lebih baik lagi.

Sekali lagi,
DON'T WORRY BE HAPPY !
:D

Saturday, October 3, 2015

Derap Langkah Yang Terus Menggoda

Jujurlah pada masa lalumu.

***

Panas, sangat panas. Kulitku protes, dengan menunjukkan belangnya. Mungkin perlu kugunakan kaos kaki. Supaya pigmenku tak terlalu bekerja berat melindungiku dari sinar matahari.
"Tap tap tap tap..."
Derap langkah khas mengalihkan pandanganku dari kakiku sendiri.

Dingin. Sejuk.
Beberapa detik aku merasakan udara disekitarku membeku. Dan setelah derap langkah itu berlalu, waktu kembali meleleh oleh terik matahari.
Aku sadar, bahwa empunya derap langkah itu membuatku tertegun.

Dan semangkuk Soto didepanku kembali meraung-raung untuk segera disempurnakan. Ah, memang ini tempat makan yang terbaik, es jeruk senyumnya juga selalu enak. Es jeruk yang selalu membuat senyum bagi yang meminumnya. Senyum sedikit mengkerut. Karena asam yang segar.

*

Hari belum habis, singgah ke toko buku merupakan hiburan yang terbaik di hari libur. Kuamati barisan buku beegenre psikologi. Aku selalu tertarik kepada buku-buku ini. Sangat menarik

"Tap tap tap tap..."

Reflek aku segera menoleh pada derap langkah itu. Kembali tertegun. Dia muncul kembali, melintasiku. Jujur agak berdebar rasanya.

*

Sore hari udara sudah sejuk. Duduk di pinggir taman sangat pas ditemani buku yang baru saja kubeli.
Tapi sebelumnya aku menengok kanan dan kiri. Apakah kali ini dia akan datang lagi melewatiku?

Tidak kurasa. Maka dengan tenang aku mulai membaca halaman demi halaman dari buku yang kupegang. Tawa dan obrolan mereka yang berjalan menikmati sore di taman seperti musik bagiku. Gesekan daun-daun di pohon beserta kepakan sayap para burung yang hendak bersarang menambah indah harmoni sore ini.

"Sedang membaca apa?"

Kaget. Konsentrasiku buyar oleh suara yang tiba-tiba muncul disampingku.

"Ah? Oh, ini... sedang baca buku.. eee.."

"Sepertinya asyik ya..."

"Eh, umm... iya."

Matanya bening khas anak-anak. Rambut hitamnya lurus dengan model Bob, berpadu dengan rok terusan putih selutut bertali pita di pinggangnya. Sepatu putih dan kaos kaki putih berenda, menambah manisnya penampilan gadis kecil ini.

Sesaat kami diam tanpa kata, tapi biarpun begitu, aku merasa kami sudah saling berbicara melalui mata kami masing-masing.

Kututup bukuku. Kuputuskan untuk mengobrol dengannya saja. Aku merasa tertarik dengan anak ini.
Namun belum aku berkata-kata lagi, wajah anak kecil ini menjadi kemerahan, matanya berair.
Aduh.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Dia belum menjawab, namun kutau dia berusaha menyembunyikan ekspresinya. Dia seperti berusaha untuk tidak menangis.

Sejujurnya aku mulai merasa tidak nyaman. Ada seorang anak kecil menangis didepanku, tapi sekaligus tidak ingin menangis. Apa sebenarnya mau dari si anak ini?

"A-a-aku.. kemarin sakit... iks"

Kata-katanya tidak begitu jelas, namun aku berusaha memahami.

"Sakit kenapa dik?"

"Ke-kemarin... akku dicegat... waktu pulang sekolah... iks... terus aku dipukul.. iks...iks.."

Dia mulai bercerita. Tapi kemudian aku merasa ada yang mengganjal dimataku.

"Aku takuuutt... hikss .. dia ngancam aku... uw... huwee... hiksss..."

Ah... aku merasa aneh... rasanya ingin memeluknya namun aku takut. Takut kalau aku memeluknya, dia malah makin menangis... tapi...

"A-aku... aku padaha-hal nggak... nggak salah... ttapi-tapi tetep dipukul..."

Ini semacam laporan dari anak kepada orang yang lebih dewasa yang ditemui. Kupikir seperti itu. Namun...

"A-aku sakit.. hiks... aku takuuttt.... takuuuttttt.... huweeeeeeeeee..."

Aku nggak tahan lagi. Ganjalan dimataku meleleh. Mencair. Mengalir. Dengan seluruh panjang tanganku, kupeluk anak ini. Dan benar, di dalam dekapku dia semakin meraung-raung, menangis. Kubiarkan saja sampai sepuasnya...

"Lepaskanlah... menangislah sepuasmu .. kamu ingin bebas 'kan?"

Dan dia terus menangis. Tak apa, menangislah sampai tak ada tenagamu untuk menangis. Tak apa. Aku ada bersamamu.

Kupeluk erat anak kecil ini sampai seolah-olah ia masuk dalam tubuhku sendiri. Melebur bersama jantungku.

*

Sinar matahari meredup. Dan kurasa memang sudah saatnya pulang. Kukemas bukuku dan kututup tas selempangku.

Saat kuberanjak dari tempat dudukku, kudengar suara derap langkah kaki itu lagi.

"Tap tap tap tap..."

Biasanya dia akan lewat begitu saja, namun kali ini berbeda. Saat ku menoleh padanya. Ia berhenti. Dan melempar senyumnya padaku. Begitupun aku. Membalas senyum kecilnya yang manis.
Lalu ia kembali berjalan dengan cepat, dengan sepatu putih mungilnya, dengan roknya yang bergelombang mengikuti hentakan langkah kakinya.

Seperti biasa, setelah dia melewatiku dan menghilang, waktu kembali mencair. Meskipun kali ini dia sudah mulai menoleh padaku bahkan menangis, kurasa dia akan tetap terus muncul. Sampai ia benar-benar puas.

Aku kemudian kembali mengingatnya, dia yang selalu ingin menangis namun tak mau, yang lemah namun selalu ingin menjadi yang kuat.
Dan senyumku kusimpan sendiri.

"Kamu sudah makin kuat nak..."
Kukatakan itu padanya, dalam hatiku.

Thursday, September 18, 2014

Surat Untuk Temanku (Be Magis Always)

www.mega-wallpaper.com


"Be Magis Always"

Beberapa hari ini terngiang-ngiang kalimat itu. Selalu jadi lebih baik. Kalau aku menangkap artinya "Jadilah lebih baik selalu." Bulan ke 7 bergumul dengan latihan rohani, setelah melalui materi ke 6 di Magis, aku merasa makin gila. Gila dalam artian sinting.. haha..  makin gila dalam menanggapi setiap hal yang datang dan pergi.

Makin kesini makin tersadarkan oleh sifat baik dan buruk yang aku miliki. Oh... ini rasa cemburu, berasal dari sifat kekanakanku yang selalu ingin memiliki sepenuhnya. Oh.. ini rasa menerima, berasal dari sifatku yang penyabar. Oh.. ini rasa takut untuk bicara, berasal dari sifat kurang percaya diri. Oh... ini rasa lega, hasil dari sifatku yang selalu ingin tahu.
Makin bisa merasa, makin bisa mengerti, makin menerima kekacauan yang ada, makin mensyukuri kedamaian yang ada.

Rasa lelah dan halangan-halangan untuk selalu menjadi "Magis" datang silih berganti. Tapi dikala latihan rohani menjadi kering, selalu muncul kerinduan untuk kembali "curhat" kepada Bapa. Menjalani latihan rohani dengan jatuh bangun sudah biasa. Tapi ra popo, aku merasa semakin sering jatuh, semangatku untuk jadi lebih baik semakin berkobar. Bukan hanya tentang latihan rohani, kemudian semangat untuk menjadi "lebih" menjalar ke pola kehidupan sehari-hari. Dimana sekarang aku jadi lebih berusaha tepat waktu, bangun lebih awal, menjalani hari dengan langkah ringan, menghadapi ketakutan-ketakutan harian, dan tersenyum untuk apa yang telah menjadi porsiku sebagai berkat harian.

Rasa tidak nyaman yang sering kuabaikan dan kuingkari adalah rasa marah. Setelah mengetahui kalau itu adalah rasa marah, malah jadi sering terjebak untuk melampiaskannya secara gamblang dengan perilaku yang tidak sepantasnya. Dan setelahnya ada rasa bersalah. Mungkin harus kembali pada sifat sebelumnya yaitu ngampet. Itu pikiranku sebelumnya. Tapi setelah dirasa-rasa lagi, kalau kembali ke sifat itu, langkahku jadi mundur. Lalu pelan-pelan setelah berdiskusi dengan diriku, diputuskanlah tentang mengolah rasa marah ini. Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan pada diriku sampai aku tahu apa sebab rasa marah yang muncul. Setelah tahu, imbasnya aku juga tahu kecenderunganku. Biasanya marahku sebabnya ya tentang itu itu saja.

Nah... inilah kenapa aku merasa makin gila. Aku jadi lebih sering "bicara" dengan diriku sendiri dalam pengolahan setiap rasa. Haha.. tapi mungkin itu bagus untukku. Masih dalam tahap normal, bukan kaya orang yang jalan tanpa tujuan tanpa sebab ketawa-ketiwi sendiri di pinggir jalan itu... hoho

Dan dari Magis juga aku belajar untuk didengar, bukan hanya mendengar. Walau masih blegag blegug tiap bicara, walau masih ada rasa tidak percaya diri, ketika benar-benar didengarkan, ada rasa senang. Ah... begini to rasanya didengarkan..

Dengan jatuh bangunku, dengan rapuh dan kuatku, aku tahu bahwa aku tidak sendiri. Aku punya kalian sebagai teman tempatku bisa mendengar dan didengar. Memahami dan dipahami. Percaya dan dipercaya.

Bukan menawarkan, hanya saja kalau kalau teman merasa perjalanan menjadi "magis" terasa atau melewati kekeringan, ingat saja bahwa teman nggak sendiri...
Boleh kita main sambil sharing, magcir kecil-kecilan gituuu... (maen ayo maeenn... haha )

untuk lilis, dani, dan yosef .. magcir nggak harus sebulan sekali,, XD
Untuk saroh kita juga,,, ayo maiinn,,, XD
Ini sharingku, mana sharingmu? ;9 

Memang aku lebih bisa nulis daripada ngomong kalo soal perasaan.... besok kalo magcir aku buat copian apa yg kutulis trus kubagi gitu aja kali yaa...
-_-"


Sunday, August 24, 2014

Ooo... Hidup ada Asas dan Dasarnya juga....

Minggu, 24 Agustus 2014 ... hari dimana Tuhan bukan cuma 'njawil' (menyentuh) aku, tapi 'njorogke' (mendorong sampai jatuh) sampai aku benar terjungkal....

***

Pertemuan bulanan Magis yang ke lima kali ini materi dibuka oleh mas Pras. Dari sini udah mbatin, "Walah.. baru pengantar ini sudah banyak dapat 'jawilan' dari Tuhan.."  Kalimat-kalimatnya mengena dan menohok. Salah satu yang kuingat adalah tentang ..... he? Lupa istilahnya tadi apa, intinya adalah ketika kita pernah disakiti seseorang, lalu kemudian di masa selanjutnya kita bertemu orang YANG BENAR-BENAR BARU kita jumpai dan ada sedikit kesamaan karakter dengan orang yang pernah menyakiti kita, secara refleks kita langsung men-judge orang baru itu BENAR-BENAR SAMA karakternya dengan orang yang pernah menyakiti kita...
Pengalaman pahit yang terekam dan belum 'terselesaikan' oleh diri akan terus berulang dalam ingatan. Mau tidak mau, secara refleks di setiap keputusan hanya didasarkan oleh pengalaman pahit tersebut. POKOKNYA ORANG ITU DAN INI SAMA!

Yahh... aku dulu sering banget berpikiran seperti itu. Sering menghakimi karakter setiap orang yang aku temui, di dalam pikranku. Tapi lambat laun aku sadar bahwa nggak ada orang yang sama di dunia ini. Yaaaa...  aku sempat menghakimi karakter beberapa teman di Magis.

"Iiihhh... ketemu orang macam ini lagi, dia pasti sombong.."
"Aaahh... payah ah... dia ini tipe pembully.. yakin banget aku!"

Daannn... maaf ya temansss... hehe .. Setelah berteman dengan orang-orang yang kupikir memiliki sifat seperti itu, ternyata aku salah... Teman-teman yang kukira sama seperti orang-orang yang pernah menyakitiku, pernah membuat luka di batinku, ternyata mereka TIDAK SAMA. Malahan mereka cenderung asik dan bisa buatku ketawa kepingkal-pingkal.... :D

Lanjut ... Diperkenalkan oleh mbak Ria, tentang Lectio Divina. Apa ya itu? (jarang mendalami kitab suci sih.. jadi benar-benar nggak tau aku tadi :v )

Lectio Divina = bacaan rohani (yang didapat dari kitab suci) adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Allah Tritunggal. Dan bukan hanya membacanya saja, ada 4 proses di Lectio Divina ;

*) Lectio, bukan hanya membaca, tapi membuka diri kepada Tuhan. Kita memilih lebih dahulu perikop yang mau kita renungkan,

*) Meditatio, adalah pengulangan kata-kata atau frasa menarik hati kita di perikop itu. Bukan cuma diulang sebagai kata-kata, tapi benar bahwa kata-kata/kalimat itu adalah sapaan dari Allah untuk diri pribadi.

*) Oratio, doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan.Tuhan berbicara lewat Kitab Suci, dan kita berbicara kepada Tuhan melalui Doa. Jadi Lectio Divina adalah pembicaraan kita dengan Tuhan secara dua arah. Setelah merenungkan sabdaNya, kita menanggapi dengan doa, dengan syukur, dan jika kita menemukan peneguhan, pertolongan, dan atau pertobatan, maka sudah sepatutnya kita memuliakan namaNya.

*) Contemplatio, setelah melalui proses-proses tadi, ada saatnya kita merasakan kehadiran Allah, kedekatanNya dengan kita dalam setiap waktu, di setiap nafas kita. Dan kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus di setiap waktu dalam hidup kita adalah suatu karunia. Dimana kita total menyerahkan diri kita kepada Allah.

Untuk lebih jelasnya tentang Lectio Divina bisa lanjut ke link sumbernya.. :
Sumbernya : http://katolisitas.org/2376/lectio-divina

Kalau sejauh yang kutangkap tentang pengenalan Lectio Divina tadi, benar-benar kereeennn. Eh, benar-benar bermanfaat. Bukan sok-sok an tapi memang benar kurasakan nasehat Tuhan di dalam perikop Kitab Suci tadi. Untuk praktek awal pengenalan Lectio Divina tadi diambil dari Amsal 3:1-8, 11-12 dan Mat 7:17-20
"Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan."
Salah satu ayat dari Kitab Amsal itu sangat menonjokku.
---Ya Tuhan.. ampuni akuu...---

Aku terlalu sok, terlalu sok dewasa, sok bijak, sok paling bisa, dan sok-sok lainnya....
Dan jadi benar-benar sadar, bahwa perilakuku akhir-akhir ini adalah benar-benar salah.
(maafkan aku ya teman...)


Lalu setelah snack dan teh hangat yang sangat menyegarkan, tema inti pun dimulai, dibawakan oleh Rm Kris , tentang Asas dan Dasar.

"Manusia diciptakan untuk apa sih? Apa Tuhan menciptakan hanya sekedar iseng saja? Apa Tuhan itu egois? Mencipta makhluk untuk memujaNya.. Apa Tuhan itu narsis?"

Beberapa pertanyaan Rm Kris jadi pengantar menuju pendalaman yang lebih dalam lagi. Bagai mantra penyedot untuk masuk ke dalam semangat diri Rm Kris yang berkobar-kobar dalam menyampaikan materi.

Kira-kira materinya seperti ini (hasil catatan + ingatan) :

-- Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi kepada Allah, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.
Setiap manusia diciptakan oleh cinta dari Tuhan. Begitu cintanya sampai-sampai Ia rela menjadi Anak Manusia, merentangkan kedua tanganNya, bersiap memeluk semua umatNya yang sangat dikasihiNya. Tapi banyak dari kita umatNya, sering mengabaikan cintaNya. Kita dianugerahi kehendak bebas, bebas bisa menerima atau mengabaikan cintaNya. Dengan memuji, menghormati, mengabdi, berarti kita membalas cintaNya (jangan sampai cintaNya bertepuk sebelah tangan).
Apa nggak terenyuh, melihat Dia merentangkan tanganNya lebar-lebar - di kayu salib - dan itu adalah untuk memeluk kita!

--Segala yang tercipta adalah sarana ; dipakai sejauh membantu, dilepas bila menghalangi.
Dan kriteria membantu atau menghalangi dikaitkan dengan tujuan diciptakan tadi.

--Sikap yang lepas bebas, mensyukuri segala sarana yang ada, kalau nggak ada ya akurapopo aja,,, :D

--Untuk dapat menemukan arahnya, lepaskan diri dari rasa lekat yang tak teratur.
Nahh,,, inilah juga yang menohok untukku. Kelekatan yang tak teratur, moody. Moody adalah tantangan terbesar dari dalam diriku untuk bisa maju menjadi lebih baik. Ketika dalam mood bagus aku serasa bisa melakukan apa saja. Dan memang bisa. Sedangkan mood jelek membawaku pada rasa malas.

--Cirinya : ketika mencari apa yang baik, mengarah pada tujuan (magis ad finem).

--Terlepas dari pemahaman-pemahaman tadi, perlu dilakukan latihan terus menerus (askesis), agar kita semakin peka dalam membedakan mana TUJUAN dan mana SARANA.


Nyambung tentang sejarah hidup, Sejarah Hidup adalah Sejarah keselamatan, dimana Tuhan ada disana, di masa gelap dan terang kita pada waktu lampau. Bagaimana Tuhan membentuk dan membimbing kita, bagaimana Tuhan menyelamatkan, bagaimana kita dapat terlepas dari masa gelap itu.... Tuhan selalu ada "saat itu".
Sejarah = His Story = Kabar Gembira
Cerita kita dimana Tuhan selalu ada adalah merupakan Kabar Gembira... !

Sebenarnya buanyaaakkk lagi yang disampaikan Rm Kris yang sangat membuatku terjungkal... hawhawhaw...

Beliau bilang penyesalan diri yang berlebihan juga nggak baik. ... begitu...

Jadi Magis harus punya ambisi untuk jadi lebih baik... Awalnya aku mengiraa diriku nggak punya ambisi. Hidup slalu manut-manut aja, nurut semua mau jalan kaya apa. Tapi setelah aku menilik jauh lebih dalam ke dalam diriku, aku menyimpan semangat. Semangat untuk bisa selalu dekat dengan Tuhan. Agak nggak jelas semangatku ini. Masih abstrak. Dekat dengan Tuhan banyak caranya.

Kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan dalam hati ;
-- Apakah aku sudah benar berjalan dengan hidup seperti ini?
-- Tujuanku yang adalah ,"Membahagiakan orang tuaku" itu sarana atau tujuan ya?
-- Aku suka anak-anak dan katanya aku punya kemampuan dalam seni rupa. Apakah itu ada suatu kaitannya dengan maksud Tuhan kepadaku?
-- Apakah aku benar-benar diciptakan dengan rasa sayang pada anak-anak? Atau hanya penggambaran pelampiasan ingin membahagiakan masa kanak2ku?

Dan... masih banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku.

Yah... masih terus berjuang untuk memantapkan tujuanku... untuk memuliakan Tuhan...


Kalau teman-teman bagaimana?


--------


Salam To Be More...

Wednesday, November 27, 2013

Nyesek

Deg-deg-an waktu liat orang yang jelas-jelas nggak boleh ditaksir tuh rasanya .... nyesek!

Cuma mau nulis itu aja sih....

Jadi sebal ma diri sendiri....

Huhuhu.....

Wednesday, November 20, 2013

Disela Rintik Hujan Malam

Tuhan itu Maha Tau, jadi sebaiknya jangan jadi sok tau di hadapan Tuhan.

Tuhan itu Maha Adil, jadi sebaiknya jangan mengadili sesamamu sesuai penglihatanmu.

Tuhan itu Maha Mendengar, jadi sebaiknya tak perlu berteriak ataupun menunjukkan suara keras saat berbicara denganNya.

Tuhan itu Maha Berbicara, jadi sebaiknya jangan mendahului 'kata-kata' dari Tuhan.

Tuhan itu Maha Baik, jadi tak perlu khawatir tentang yang terbaik untukmu. Itu semua sudah dipersiapkanNya.

Tuhan itu Maha Kasih, maka tak perlu ragu untuk berbagi kasih pada sesama pun alam, karena kasihNya tak kan ada habisnya.


Karena itu, tak perlu mengeluh ataupun berduka, dalam saat terburuk dan tak ada seseorang yang menghibur, ingatlah bahwa Ia selalu setia berada disampingmu. Tak peduli seberapa banyak dosamu, tak peduli seberapa sakit penderitaanmu, tak peduli seberapa kesepianmu, jika kau sadar bahwa Tuhan selalu besertamu, tak lama segala susahmu akan disempurnakan menjadi senyum bahagia.

Wednesday, October 23, 2013

Cerita Alam

Langit sangat cerah, awan berarak membentuk suatu pola ; pola tak berpola. Pagi yang cerah tiap harinya, dengan harum bunga dan angin yang lembut. Para cemara menari sesuai bisikan nada aliran sungai dimana ikan-ikan dan karanglah pemusiknya. Burung gereja yang sangat ramah selalu menyapa, bukan berkicau atau bernyanyi. Hanya menyapa. Seolah merasakan indahnya damai surga, sekali kemari maka akan sulit kembali. Serasa tak rela meninggalkan nuansa penuh cinta dari alam.

Terlihat dari kejauhan seorang pria berdiri, memandang langit dengan seksama, entah penuh makna atau duka. Sesekali menunduk, berkedip pada rumput ; berusaha tersenyum. Ironi. Dalam hembusan angin yang ceria terbawa aroma lara. Entah berasal dari pria itu, atau pada pada pandangannya. Atau pada keduanya. Diam. Alam pun terus mengamatinya. Dalam diam.

Dunia adalah menyakitkan menurutnya. Penuh ilusi dan tipu daya, kemenangan hanya pada yang berkuasa atas harta. Atas harta, kuasa sampai wanita. Yang berharta akan berkuasa, yang berkuasa akan bermain wanita. Klasik. Untuk seorang pria naif seperti dia, yang berharap pada kesejatian cinta, dunia begitu memilukan. Semua yang ia cintai, terutama bidadari yang ia harapkan untuk bersamanya, meninggalkannya. Ia tak punya harta, pun kuasa, maka sukar dalam mendapat wanita. Yang ia miliki hanya keyakinan akan masa depan cerah.

"Katakan padaku! Selain harta dan kuasa, apa yang tidak kumiliki?! Hatiku kuat selayak baja, jiwaku dipenuhi semangat emas kejujuran, murninya kilauan berlian tak semurni cintaku pada gadis yang kuharapkan! Mengapa dunia begitu jahat??? Mengapa hanya yang berharta yang bisa mendapatkan segalanya???? Tak ada lagikah yang berhati lurus di dunia ini?? MENGAPAAAA???!!!"

Para burung berhamburan, angin bergejolak, para cemara membuang daun-daunnya. Mereka yang hanya mengamati akhirnya berontak. Suara sungai pun makin keras menghantam. Suara parau pria itu menjadi alasan mereka berontak. Ada yang salah. Ada yang salah pada pandangan pria itu. Atau pada pola pikirnya. Atau keduanya.

Setelah sesaat, alam pun kembali diam. Kembali mengamati. Apa gerangan yang akan dilakukan pria ini? Sungai mulai gelisah. Jangan-jangan pria ini ingin meceburkan dirinya? Ah, tidak mungkin. Sungai terlalu indah dan juga tidak dalam. Ikan menenangkan sang sungai. Atau pria ini ingin menggantungkan dirinya? Para cemara mulai gelisah. Itu tidak mungkin, para cemara terlalu tinggi dan terlalu indah untuk tempat bergantung. Burung-burung menenangkan para cemara. Lalu apa yang kira-kira akan pria ini lakukan?
Mungkin ada yang bisa menolongnya? Kita hanya bisa mengamati. Begitu yang alam pikirkan.

"Kak..."

Terhenyak dari ratapannya, pria ini merasakan ada yang menarik-narik kemeja yang ia kenakan. Dilihatnya seorang anak kecil berhidung mungil dengan tangan yang mungil pula.

"A...ada apa?"

"Kenapa kakak berisik?"

"Ah... maaf, aku kira hanya aku yang ada disini."

"Kakak sedih? Kenapa?"

"Orang yang kucintai meninggalkan aku demi orang yang tidak lebih baik daripada aku."

"Oh... jadi kakak sedih karena ditinggalkan... Kalau kutemani bagaimana? Aku takkan meninggalkan kakak."

Pria ini tertegun mendengar kalimat sederhana yang dilontarkan oleh seorang anak kecil yang ada disampingnya.
Tanpa ragu sang anak duduk beralaskan rumput yang lembut, dengan sekali tarikan saja, pria ini juga terduduk disamping sang anak.

Mereka saling berbicara, bercanda dan tersenyum. Dan alam masih mengamati.

"Kau begitu kecil, berapa umurmu?"

"Bulan besok aku masuk sekolah menengah pertama."

"Dua belas? Atau tiga belas?"

"Sebelas. Aku memang paling muda dikelasku."
Kepalanya sesekali digoyangkan ketika bercerita, membuat rambut lurusnya juga bergoyang. Angin sedikit berperan dalam hal ini.

"Oh, pantas. Memang masih kecil." Gumam tawa menggema dari bibirnya.

"Kalau kakak? Dua puluh lima?" Mata coklatnya berkilat penuh selidik.

"Hmpft... Apa aku terlihat setua itu?"
Tawa akhirnya meluncur melalui suaranya. Untuk beberapa saat alam sepertinya ingin tertawa juga. Tapi mereka menahannya.
"Enam belas. Aku baru enam belas tahun."

"Oh.... Baru enam belas... lalu kenapa sudah berpikiran seperti sudah berumur dewasa? Kakak kan belum dewasa?"

"Apa maksudnya?"

"Suara kakak tadi kencang. Kata ibu, hal-hal seperti harta dan yang lainnya hanya perlu dipikirkan oleh orang dewasa. Tapi ada apa sebenarnya?"

"Hanya pelampisan. Hanya ingin berteriak. Hanya itu saja," ucapnya sambil tersenyum simpul.

"Kakak kelihatannya pintar, wajah kakak juga lumayan. Tapi lebih baik kakak memikirkan belajar dulu daripada memikirkan hal yang tidak-tidak."

"Hal yang tidak-tidak bagaimana?"

"Itu juga yang dikatakan ibu padaku, sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti. Harta dan teman-temannya mungkin, mungkin itu adalah hal yang tidak-tidak?"

Sesaat mereka terdiam. Berfikir, tenggelam dalam benak masing-masing. Si pria mungkin merenung ada benarnya sang anak dalam berkata. Sang anak mungkin kembali berusaha memahami apa yang pernah ibunya katakan. Ibunya pernah berkata seperti itu ketika ia bercerita tentang temannya yang memamerkan sebuah cincin emas bermata berlian padanya. Ia benci pada temannya yang suka pamer.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

Kini pikiran si pria mulai terbuka. Ia sadar bahwa ia sebaiknya bangga untuk hal yang ia miliki. Prestasi yang cemerlang, termasuk yang ia banggakan. Ia yakin bahwa ia mempunyai masa depan yang cerah. Tak perlu ia memikirkan bahkan tergila-gila pada seorang gadis untuk saat ini. Kini ia tahu, kelak suatu saat dimana dia sudah berada di posisi tepat dalam hidupnya, dengan mengandalkan kejujuran, prestasi dan terutama Tuhan, ia pasti akan menemukan seorang gadis yang tepat pula untuknya. Untuk saat ini, demi seorang gadis yang tepat, tentunya dia harus menjadi seorang pria yang tepat.

"Dik, siapa namamu?"

"Sherly."

"Sherly, pasti ibumu sangatlah baik. Beliau mengajarkan sesuatu yang baik."

"Ah.. iya, ibuku sangat baik. Masakannya juga enak, terutama nasi gorengnya!"
Timpal sang anak dengan penuh semangat.

Lebih baik memikirkan belajar daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Sudah kuputuskan. Aku akan mengejar masa depanku dengan belajar keras saat ini."
Ia bergumam. Masih sakit. Atas kekalahannya. Setelah memendam cinta bertepuk sebelah tangan beberapa lama, ternyata gadis yang ia cintai jatuh ke pelukan seorang remaja pria yang memiliki orangtua yang kaya raya. Sedangkan ia hanya seorang remaja pria penerima beasiswa yang berasal dari keluarga sederhana.

"Kak....? Kakak melamun?"

"Eh... maaf, hanya sedikit berfikir. Boleh kapan-kapan aku mencicipi nasi goreng buatan ibumu? Kedengarannya sangat sangat enak..." ^_^

"Tentu! Sangat sangat sangaaatt enak!" Kedua jempol tangannya ia acungkan dengan mantap.

Alam masih diam, sedikit bergumam. Angin bergumam dengan lembut, awan kembali ceria melintasi bukit, burung gereja pun menyapa hati yang mulai bangkit. Nuansa damai kembali menyeruak.

"Sudah beranjak sore. Aku ingin pulang. Kau sebaiknya pulang juga Sher."
Sedikit meregangkan badan, dan si pria mulai melangkah maju.

"Ah, iya."

Dengan langkah kecilnya sang anak berlari berusaha mengikuti langkah si pria. Dan kembali berhasil menarik kemeja si pria. Hampir. Hampir saja si pria tak kuasa menahan bebannya sendiri. Untung saja gerak reflek melarangnya untuk jatuh.

"Ada apa? Sherly?"

"Besok kakak kesini lagi? Kubawakan nasi goreng buatan ibuku. Mau?"

Si pria terdiam sesaat. Lalu tersenyum hangat.
"Tentu saja.."

Tangannya mengusap kepala sang anak. Membuat rambut pendek sang anak sedikit tak beraturan.
Sampai-sampai sang awan pun tertawa melihat rambut sang anak. Tapi sang anak terlihat tak peduli.

"Asik... "
Tapi belum ia lepaskan tangannya dari kemeja si pria.

"Eh iya. nama kakak siapa?"

"Namaku? Namaku...........





                                                                                                            ==End==

Wednesday, September 25, 2013

Tujuan Hidup ???

"Tujuan uripmu ki opo?"

Tujuan hidupku?
Hihi... hari ini hari yang menyenangkan menurutku. Dalam obrolan malam yang nggak jelas membahas tentang kejelasan hidup. Semakin malam semakin bermakna (wuelehh), dan mendalam (wkwkwkw).

***

Hari Rabu seperti biasa malam harinya ada kumpul Kentos di sekretariat. Hari yang kunanti, dan menjadi sangat kunanti karena sudah 2 x yang berarti 2 minggu tanpa bertemu teman Kentos (hikz). Dan seperti biasa lagi,  aku telat. Dari tempat kerja langsung menuju Sempu, tapi tetap saja aku datang di akhir rapat dan langsung menuju sesi favoritku, after Kentos :D

Tujuan hidup? Tentu saja pada Tuhan. Sudah pasti. Tapi dengan apa kita bisa menuju kepada Tuhan? Tujuan sudah jelas, jalan menuju tujuan juga harus jelas dong. Obrolan after Kentos kali ini menyentuh tentang suatu kejelasan. Kejelasan hidup, kejelasan hati, kejelasan prinsip dan komitmen, memperjelas tujuan dan kejelasan jalan menuju tujuan.

Jadi sebenarnya kalau kita bertanya tentang tujuan hidup, yang sebenarnya kita tanyakan bukanlah tentang tujuan hidup, tapi mengenai jalan menuju tujuan hidup. Jalan apa atau lebih tepatnya mau dengan lantaran apa kita mau menuju/bertemu dengan Tuhan? Apa kita mau bertemu Tuhan hanya dengan tangan kosong?
"Apa yang telah kau perbuat di Bumi?"
"Kebaikan apa yang telah kau lakukan terhadap sesamamu dan seluruh ciptaanKU di Bumi?"
"Apakah kau telah mempergunakan talenta-talenta yang telah KUberikan dengan semestinya?"
"Atau kau hanya menyimpannya dan tidak mengembangkan berkat yang telah KUberikan?"
Seandainya nanti Tuhan bertanya seperti itu, apa jawab kita?

Kalau diibaratakan benda, talenta adalah sepatu kita untuk berjalan menuju puncak gunung (Allah). Semua manusia mempunyainya, bohong (bodoh juga bisa) jika ada orang bilang ia tak memiliki suatu keahlian spesial dari Tuhan. Semuanya mempunyai sepatu itu, semuanya juga mempunyai pilihan untuk mau memakainya atau tidak. Ada yang berpikiran keliru dengan menyimpannya saja di dalam gudang. Entah takut rusak, entah takut dikira pamer, atau memang malas untuk memakainya.
Ketakutan yang sebenarnya tak berarti.

Kalau aku sih pasrah dengan jalan yang diberikan oleh Tuhan untukku (terlalu pasrah mungkin =_=' ). Tapi semuanya memang yang terbaik buatku. Seperti teka-teki, setiap pertanyaan yang kuajukan padaNYA dijawab tidak langsung seluruhnya. Tapi itu yang membuatku takjub dan bersyukur, saat aku berhasil menyusun jawaban, aku makin tahu bahwa Tuhan sangat mencintaiku.

Aku ingin menggunakan sepatuku dengan sebaik mungkin seperti Tuhan menghendakinya. Dan juga aku berusaha untuk menemukan atau lebih tepatnya menggali dalam diriku, sepatu-sepatu yang telah Tuhan berikan padaku. Mungkin aku akan menemukan sepatu yang sangat indah, dan aku tahu aku memilikinya, bukan hanya sepatu-sepatu. Aku juga punya sayap!


***

Wajah mudah senyum, periang, ramah, tak mudah lelah, suka tertawa, selalu berusaha berpikir positif, sopan, pecinta anak-anak, penyayang binatang + bunga + alam, berbakti pada orangtua, senang jika dibutuhkan.... dll

Sifat positif kita juga adalah berkat dari Tuhan....
Yang sudah sepatutnya kita pakai, kita bagikan pada sesama, sebagai penapak kaki kita, sebagai sayap kita di jalan menuju Tuhan.

Karena talenta bukan hanya hal yang muluk-muluk...
Bukan hanya tentang pekerjaan atau impian yang menjanjikan...
Karena jalan menuju Tuhan bukan jalan dengan karpet merah mewah...
Tapi jalan sederhana yang sejuk dan menggugah...



                                                                                   ===Kamis awal, dengan ketenangan.===

Monday, July 22, 2013

Naif

Angin malam menggelitik rasa
kala angan melayang terbawa pantulan bulan
Para jangkrik tertawa
menertawai hamba yang sedang terpesona

Mengapa dunia sangat menggugah
sungguh memikat harapan
Bunga-bunga mengatup kala malam
terkecuali untuk Asa yang tak pernah patah

Katakan bahwa naif adalah bodoh
maka orang-orang selalu mencemooh
Tapi siapa yang sebenarnya tolol
bersembunyi dalam kepalsuan konyol

Apa salah mencintai kebenaran
apa salah terpikat pada kedamaian
Ini mimpi hamba
ini mimpi kami para perindu keadilan

Cinta yang merupakan kekal
bukan hanya pada pacar tapi juga pada alam
Kasih yang abadi
bukan hanya pada padi tapi pada semua diri

Katakan bahwa hamba naif
hanya saja hamba mencintai segala baik

Katakan bahwa dunia tanpa orang naif
maka tiada harapan di bumi